Ekonomi

Rupiah Melemah di Penutupan Kamis Sore, Berada di Level Rp17.090 per Dolar AS

16
×

Rupiah Melemah di Penutupan Kamis Sore, Berada di Level Rp17.090 per Dolar AS

Sebarkan artikel ini

Tekanan geopolitik global dan ketidakpastian pasar keuangan mendorong rupiah kembali melemah di tengah proyeksi ekonomi yang direvisi.

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan pada penutupan perdagangan Kamis sore, setelah sebelumnya sempat menguat pada hari sebelumnya.

Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis, 9 April 2026, rupiah ditutup di posisi Rp17.090 per dolar AS. Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 78 poin atau sekitar 0,46 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.012 per dolar AS.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa sepanjang sesi perdagangan, rupiah sempat melemah lebih dalam hingga 90 poin sebelum akhirnya ditutup di level tersebut.

Sepanjang hari ini, pergerakan rupiah tercatat berada di kisaran Rp17.030 hingga Rp17.104 per dolar AS, dengan kinerja tahun berjalan (year to date) masih mencatatkan return sebesar 2,46 persen.

Di sisi lain, data dari Yahoo Finance menunjukkan pergerakan yang sedikit berbeda. Rupiah justru tercatat menguat tipis ke level Rp17.080 per dolar AS, naik sekitar tujuh poin atau 0,04 persen dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.087.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp17.082 per dolar AS, atau melemah 73 poin dari level sebelumnya Rp17.009.

Ketegangan Global Tekan Pergerakan Rupiah

Menurut Ibrahim, pergerakan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat gangguan di kawasan Selat Hormuz serta memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah.

Jalur strategis tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia, yang mengangkut sekitar seperlima pasokan global. Meski sempat ada gencatan senjata sementara antara AS dan Iran, aktivitas pelayaran masih terbatas dan diawasi ketat, sehingga pasokan belum sepenuhnya pulih.

Selain itu, meningkatnya serangan Israel di Lebanon turut menambah kekhawatiran pasar, karena berpotensi merusak kesepakatan damai yang masih rapuh. Situasi ini bahkan sempat menghentikan jalur pengiriman tanker, meskipun ada sinyal awal pembukaan kembali secara bertahap.

Pihak Iran juga menyatakan bahwa dialog damai dengan AS menjadi sulit dilakukan setelah serangan terbaru, yang dianggap melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump sempat mengumumkan gencatan senjata dua pekan dengan Iran, yang sempat memicu optimisme pasar terkait pemulihan distribusi energi global. Namun, analis menilai pemulihan infrastruktur dan rantai pasok di kawasan tersebut bisa memakan waktu cukup lama.

Sinyal Kebijakan The Fed dan Tekanan Ekonomi Global

Dari sisi kebijakan moneter, risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Maret menunjukkan bahwa bank sentral AS masih membuka peluang penurunan suku bunga tahun ini, meskipun ketidakpastian global masih tinggi.

Para pembuat kebijakan menegaskan pentingnya fleksibilitas dalam merespons dampak konflik terhadap inflasi yang masih berada di atas target, serta kondisi pasar tenaga kerja yang cenderung stagnan dalam setahun terakhir.

Proyeksi Ekonomi Indonesia Direvisi Turun

Di tengah kondisi global yang penuh tekanan, World Bank memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 4,7 persen, sedikit lebih rendah dari proyeksi sebelumnya 4,8 persen. Meski demikian, angka ini masih lebih baik dibandingkan rata-rata kawasan Asia Timur dan Pasifik yang diperkirakan 4,2 persen.

Faktor eksternal seperti konflik geopolitik, kebijakan perdagangan Amerika Serikat, serta perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan turut memengaruhi prospek kawasan.

Selain itu, Organisation for Economic Co-operation and Development juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,8 persen dari sebelumnya 5,0 persen.

Meski demikian, pemerintah Indonesia tetap optimistis. Pertumbuhan ekonomi pada 2026 diperkirakan berada di kisaran 5,4 hingga 5,7 persen, dengan peluang mencapai 6 persen melalui penguatan konsumsi domestik, peningkatan investasi, serta program biodiesel B50.

Proyeksi Pergerakan Rupiah Besok

Melihat berbagai faktor tersebut, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan Jumat akan cenderung fluktuatif, namun masih berpotensi melemah.

Ia memproyeksikan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.090 hingga Rp17.140 per dolar AS pada penutupan perdagangan mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *