Washington — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa insiden jatuhnya pesawat tempur militer AS di wilayah Iran tidak akan mengganggu proses diplomasi yang tengah berlangsung antara kedua negara.
Menurut Trump, kejadian tersebut merupakan bagian dari dinamika konflik bersenjata yang sedang terjadi.
“Tidak sama sekali memengaruhi diplomasi. Ini adalah perang. Kita sedang berada dalam kondisi perang,” ujar Trump dalam wawancara via telepon yang dikutip dari TRT World pada Sabtu, 4 April 2026.
Ia juga enggan memberikan rincian terkait operasi pencarian dan penyelamatan awak pesawat, dengan alasan informasi tersebut bersifat sensitif dari sisi militer.
Di tengah meningkatnya ketegangan, media Iran, Fars News Agency, melaporkan bahwa Amerika Serikat sempat mengajukan proposal gencatan senjata selama 48 jam kepada Iran melalui pihak ketiga.
Sumber yang mengetahui proses tersebut menyebutkan bahwa usulan itu disampaikan pada 2 April melalui negara sahabat. Namun, hingga kini Iran belum memberikan respons resmi dan justru menunjukkan sikap melalui peningkatan aktivitas militer di lapangan.
Sumber yang sama juga mengungkapkan bahwa intensitas diplomasi dari pihak AS meningkat dalam beberapa waktu terakhir, terutama setelah adanya laporan serangan terhadap fasilitas militer Amerika di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan regional terus memanas sejak Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari 2026.
Menurut otoritas Iran, lebih dari 1.340 orang dilaporkan meninggal dunia sejak konflik tersebut dimulai, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan menggunakan rudal dan drone yang menyasar sejumlah wilayah, termasuk Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi instalasi militer milik Amerika Serikat.











