Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan kemungkinan kerja sama antara negaranya dan Iran dalam mengatur Selat Hormuz. Pernyataan ini disampaikan pada Senin, 23 Maret 2026, di tengah upaya meredakan ketegangan geopolitik yang sebelumnya meningkat.
Trump menilai jalur laut yang sangat penting bagi distribusi energi global tersebut berpotensi berada di bawah pengelolaan bersama. Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai rute vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan energi dunia.
Saat menjawab pertanyaan wartawan terkait klaim adanya pembicaraan untuk mengakhiri konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, Trump menyebut bahwa skenario pengendalian bersama sangat mungkin terjadi. Ia bahkan secara santai menyebut kemungkinan bekerja sama dengan pemimpin tertinggi Iran.
Meski begitu, Trump tidak merinci maksud dari “kendali bersama” yang ia sampaikan. Jika Amerika Serikat benar-benar mengakui peran Iran di kawasan tersebut, hal itu dipandang sebagai langkah besar yang menguntungkan Teheran.
Sebelumnya, Trump sempat melontarkan ancaman terhadap Iran, termasuk kemungkinan menyerang infrastruktur listrik jika akses di Selat Hormuz tidak dibuka. Namun belakangan, ia menyatakan bahwa komunikasi antara kedua pihak berjalan positif dan konstruktif.
Di sisi lain, pemerintah Iran menyebut adanya upaya mediasi dari negara-negara kawasan untuk menurunkan tensi konflik. Meskipun demikian, Teheran membantah adanya perundingan langsung dengan Washington.
Beberapa diplomat regional menilai bahwa jika Amerika Serikat mengakui pengaruh Iran di Selat Hormuz, hal itu akan disambut baik oleh pemerintah Iran. Selain itu, kebijakan Washington yang melonggarkan sanksi terhadap ekspor minyak Iran di laut disebut turut membantu menstabilkan harga energi global, meski secara tidak langsung memberi keuntungan bagi Iran.
Perebutan Pengaruh di Jalur Strategis
Situasi di Selat Hormuz semakin memanas setelah Iran memperkuat kontrolnya pasca serangan dari Israel dan Amerika Serikat. Selama ini, posisi global Washington sangat bergantung pada kemampuannya menjaga keamanan jalur perdagangan laut internasional.
Namun, melemahnya pengaruh Amerika Serikat di kawasan tersebut memicu berbagai spekulasi, termasuk kemungkinan aksi militer lanjutan terhadap Iran.
Setelah lama berada di bawah tekanan sanksi, Iran kini justru menunjukkan dominasinya dengan memberlakukan aturan sendiri di Selat Hormuz melalui kekuatan militernya.
Sejak konflik memanas pada 28 Februari, setidaknya 17 kapal dilaporkan menjadi target serangan di wilayah Teluk. Meskipun perlindungan asuransi masih tersedia dari perusahaan Barat, banyak operator kapal memilih menghindari jalur tersebut akibat tingginya biaya premi dan risiko keamanan.
Negara-negara Teluk yang merupakan sekutu Amerika Serikat juga mengalami kesulitan dalam menyalurkan minyak dan gas melalui jalur ini. Sebaliknya, Iran tetap mampu mengekspor antara satu hingga 1,5 juta barel minyak per hari melalui perairan tersebut.
Strategi Iran Perkuat Kendal
Iran dinilai semakin cermat dalam memanfaatkan posisinya di Selat Hormuz. Sejumlah negara seperti India, Pakistan, Irak, Malaysia, dan China dilaporkan telah menjalin komunikasi dengan Teheran terkait akses pelayaran di wilayah tersebut.
Berdasarkan data pelacakan, Iran juga aktif mengarahkan kapal yang melintas agar mendekati wilayah pesisirnya. Para ahli menilai langkah ini sebagai bentuk kontrol tidak langsung terhadap lalu lintas laut.
Laporan dari Lloyd’s List menyebut Iran telah menciptakan semacam koridor pelayaran aman secara de facto di wilayah teritorialnya. Dalam beberapa kasus, kapal yang ingin melintas bahkan dikenakan biaya tertentu.
Selain itu, Iran disebut menawarkan jalur aman bagi kapal dengan transaksi energi menggunakan mata uang yuan dari China. Pendekatan ini dianggap lebih sistematis dibanding strategi yang sebelumnya dilakukan kelompok Houthi di Laut Merah.
Analis pengiriman dan komoditas, Michelle Wiese Bockmann, menilai strategi Iran sangat efektif dalam membatasi pergerakan kapal yang terafiliasi dengan Barat.
“Iran mengadopsi pola yang mirip dengan yang digunakan Houthi, dan terbukti sangat efektif,” ujarnya.











