Penyelidikan militer yang masih berlangsung menemukan indikasi awal bahwa Amerika Serikat kemungkinan bertanggung jawab atas serangan rudal yang menghantam sebuah sekolah dasar di Iran pada hari pertama konflik. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 168 siswa dan 14 orang guru.
Temuan awal dari investigasi ini pertama kali dilaporkan oleh The New York Times, sementara penyelidikan resmi dari pihak militer masih terus berjalan.
Serangan terjadi pada 28 Februari dan mengenai Sekolah Shajareh Tayyiba yang berada di kota Minab. Dua sumber yang mengetahui proses penyelidikan awal menyebutkan bahwa kemungkinan kesalahan sasaran terjadi karena militer Amerika menggunakan data lama terkait posisi sebuah pangkalan angkatan laut yang berada di dekat sekolah tersebut.
Saat itu, militer Amerika tengah menargetkan fasilitas milik Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) yang lokasinya tidak jauh dari area sekolah.
Menurut sumber yang mengetahui penyelidikan, koordinat target serangan ditentukan oleh United States Central Command (CENTCOM) berdasarkan informasi intelijen yang sebelumnya disediakan oleh Defense Intelligence Agency (DIA). Namun, data tersebut diduga sudah tidak diperbarui sehingga berpotensi menyebabkan kesalahan dalam penentuan target.
Juru bicara DIA mengatakan kepada CNN bahwa insiden tersebut masih dalam proses penyelidikan dan pihaknya menyerahkan komentar lebih lanjut kepada Pentagon.
Sementara itu, perwakilan dari CENTCOM juga menolak memberikan keterangan tambahan karena proses investigasi belum selesai.
Beberapa sumber yang berbicara kepada CNN menyatakan bahwa hasil awal penyelidikan semakin menguatkan dugaan bahwa serangan tersebut memang berasal dari militer Amerika Serikat.
Perubahan Area Kompleks Berdasarkan Citra Satelit
Analisis citra satelit menunjukkan bahwa pada masa lalu sekolah tersebut berada dalam satu kompleks yang sama dengan pangkalan militer IRGC.
Gambar satelit dari tahun 2013 memperlihatkan kedua fasilitas tersebut masih berada dalam satu area yang sama. Namun pada tahun 2016 terlihat adanya perubahan, yakni pembangunan pagar yang memisahkan sekolah dari area militer serta penambahan pintu masuk khusus untuk fasilitas pendidikan tersebut.
Citra terbaru dari Desember 2025 bahkan menunjukkan aktivitas puluhan orang di halaman sekolah yang tampak sedang beraktivitas atau bermain.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada hari Rabu bahwa dirinya belum mengetahui secara detail laporan media mengenai dugaan keterlibatan negaranya dalam serangan mematikan tersebut.
Ia sebelumnya sempat menyatakan bahwa Iran mungkin saja bertanggung jawab atas peristiwa tersebut. Namun ketika ditanya mengapa tidak ada pejabat pemerintahannya yang secara terbuka mendukung klaim itu, Trump menjawab bahwa dirinya belum memiliki cukup informasi mengenai kejadian tersebut.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, juga menegaskan bahwa proses investigasi masih berlangsung.
Ia menambahkan bahwa bahkan laporan dari The New York Times sendiri menyebutkan bahwa penyelidikan terkait insiden tersebut belum selesai.
Sementara itu Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menyatakan bahwa peristiwa tersebut akan diselidiki secara menyeluruh. Ia juga menekankan bahwa militer Amerika selama ini berupaya semaksimal mungkin untuk menghindari jatuhnya korban dari kalangan sipil.
Dalam pernyataannya, ia justru menuduh Iran melakukan serangan yang tidak membedakan antara target militer dan warga sipil.
Bukti Video dan Analisis Persenjataan
Sebuah video yang dianalisis oleh CNN memperlihatkan momen serangan tersebut. Rekaman itu diambil dari sebuah lokasi proyek konstruksi yang berada tidak jauh dari area kejadian.
Video tersebut pertama kali dirilis oleh kantor berita Iran, Mehr News Agency.
Dalam rekaman itu terlihat sebuah amunisi yang menurut sejumlah pakar memiliki karakteristik yang sesuai dengan rudal jelajah BGM-109 Tomahawk Land Attack Missile. Rudal tersebut menghantam area pangkalan IRGC pada 28 Februari.
Ketika kamera kemudian bergeser ke arah lain, tampak kepulan asap besar muncul dari arah sekolah Shajareh Tayyiba.
Pejabat Iran mengatakan bahwa mereka menemukan serpihan rudal di lokasi serangan tersebut.
Analisis sebelumnya yang dilakukan oleh CNN menunjukkan bahwa fragmen yang ditemukan memiliki ciri yang sesuai dengan rudal jelajah Tomahawk buatan Amerika.
Empat foto serpihan rudal tersebut dibagikan melalui Telegram oleh penyiar negara Iran, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB). Dalam keterangan yang menyertai foto tersebut disebutkan bahwa potongan logam tersebut merupakan sisa-sisa rudal dari serangan yang terjadi.
Meski demikian, belum dapat dipastikan apakah serpihan tersebut berasal dari serangan yang menghantam sekolah, dari serangan terhadap pangkalan IRGC di dekatnya, atau dari lokasi lain.
Namun sejumlah analis persenjataan menyatakan kepada CNN bahwa fragmen tersebut memiliki karakteristik yang konsisten dengan rudal Tomahawk.
Rudal jelajah ini diproduksi oleh perusahaan kontraktor pertahanan Amerika, Raytheon, dan hanya dimiliki oleh beberapa negara sekutu Amerika Serikat yang memperoleh izin khusus.
Bahkan sekutu dekat Washington seperti Israel disebut tidak memiliki sistem senjata tersebut. Para pakar juga menyatakan bahwa Iran tidak memiliki rudal jenis ini dalam persenjataannya.



