Teheran: Intensitas serangan yang terus dilakukan oleh Israel ke wilayah Lebanon mendorong Iran untuk mengevaluasi kembali komitmennya terhadap kesepakatan gencatan senjata.
Seorang sumber yang memahami situasi tersebut menyatakan bahwa Teheran tidak akan ragu menarik diri dari perjanjian jika pelanggaran terus terjadi. Pernyataan ini disampaikan kepada Tasnim News Agency dan kemudian dikutip oleh TRT World pada Kamis, 9 April 2026.
Menurut sumber itu, pemerintah Iran saat ini tengah mencermati perkembangan di lapangan, terutama terkait apa yang mereka nilai sebagai pelanggaran berulang yang dilakukan Israel melalui serangan ke Lebanon.
Disebutkan pula bahwa rencana gencatan senjata selama dua minggu, yang mencakup penghentian konflik di seluruh front termasuk dengan kelompok “perlawanan Islam” di Lebanon, sebelumnya telah mendapat persetujuan dari Amerika Serikat.
Namun demikian, sejak Rabu pagi, Israel dinilai telah melanggar kesepakatan tersebut dengan melancarkan serangan besar-besaran ke sejumlah wilayah di Lebanon.
Militer Israel mengklaim telah menyerang lebih dari 100 titik hanya dalam waktu 10 menit. Target serangan mencakup berbagai lokasi strategis di Beirut, Lembah Beqaa, serta wilayah selatan Lebanon, yang disebut sebagai salah satu operasi terbesar sejak konflik terbaru dimulai.
Serangan udara dan darat Israel di Lebanon selatan sendiri telah berlangsung sejak insiden lintas batas yang melibatkan kelompok Hizbullah pada 2 Maret, meskipun secara resmi gencatan senjata telah diberlakukan sejak November 2024.
Sementara itu, otoritas Lebanon melaporkan bahwa konflik ini telah menelan korban jiwa yang cukup besar, dengan sedikitnya 1.530 orang meninggal dunia dan 4.812 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan yang terjadi.











