Internasional

Iran Tegaskan Kesiapan Militer: “Kami Tetap Siaga Penuh”

15
×

Iran Tegaskan Kesiapan Militer: “Kami Tetap Siaga Penuh”

Sebarkan artikel ini

Iran menegaskan kesiapan militernya untuk merespons setiap pelanggaran gencatan senjata dengan kekuatan penuh di tengah ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel.

Teheran – Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) kembali mengeluarkan peringatan keras terkait gencatan senjata yang disepakati dengan Amerika Serikat selama dua pekan. Iran menegaskan bahwa setiap pelanggaran dari pihak lawan akan langsung dibalas tanpa kompromi.

Komandan Dirgantara IRGC, Seyyed Majid Mousavi, menyampaikan pesan tegas melalui platform X. Ia menegaskan bahwa militer Iran tetap dalam kondisi siap tempur penuh dan tidak akan ragu mengambil tindakan jika terjadi pelanggaran.

Menurutnya, baik Amerika Serikat maupun Israel sudah mengetahui secara langsung kesiapan Iran. Ia juga memperingatkan bahwa kesalahan sekecil apa pun dari pihak lawan dapat memicu respons militer besar-besaran.

Pernyataan serupa turut disampaikan oleh Komandan Angkatan Laut IRGC. Ia menekankan bahwa kekuatan militer Iran telah berada dalam posisi siaga tinggi untuk menghadapi segala kemungkinan, termasuk pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.

Kesepakatan penghentian sementara konflik antara Iran dan Amerika Serikat tercapai pada Selasa malam, setelah kedua pihak terlibat pertempuran selama sekitar 40 hari. Konflik tersebut ditandai dengan serangan intensif berupa rudal dan drone dari pihak Iran.

Namun, tak lama setelah kesepakatan diumumkan, IRGC melaporkan insiden pelanggaran. Sebuah drone asing berhasil dicegat dan dihancurkan di wilayah udara Provinsi Fars. Selain itu, fasilitas kilang minyak di Pulau Lavan juga dilaporkan menjadi target serangan setelah gencatan senjata berlaku.

Sebelumnya, IRGC telah memperingatkan bahwa keberadaan pesawat militer Amerika Serikat maupun Israel di wilayah udara Iran—meskipun tanpa aksi tempur—akan dianggap sebagai pelanggaran serius dan akan direspons secara tegas. Peringatan ini muncul di tengah tingginya tensi konflik sejak akhir Februari.

Sejak dimulainya serangan oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026, IRGC mengklaim telah melancarkan lebih dari 100 gelombang serangan menggunakan rudal dan drone ke berbagai target strategis milik kedua negara tersebut.

Operasi balasan yang disebut sebagai Operasi True Promise 4 itu dilaporkan menyebabkan dampak signifikan, termasuk penarikan ratusan personel militer AS dari kawasan serta kerugian aset bernilai miliaran dolar di wilayah Teluk Persia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *