Internasional

Oposisi Israel Minta Operasi Militer ke Iran Tetap Berjalan Meski AS Mundur

12
×

Oposisi Israel Minta Operasi Militer ke Iran Tetap Berjalan Meski AS Mundur

Sebarkan artikel ini

Perbedaan sikap antara Israel dan Amerika Serikat memperlihatkan dinamika baru dalam konflik dengan Iran yang kian memanas.

Situasi politik dan keamanan di Timur Tengah kembali memanas setelah tokoh oposisi Israel, Avigdor Lieberman, mendesak agar operasi militer terhadap Iran terus dilanjutkan, meskipun Amerika Serikat memutuskan untuk tidak lagi terlibat secara langsung.

Pernyataan tersebut disampaikan pada Senin, 23 Maret 2026, sebagai respons atas komentar Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyebut adanya perkembangan positif dalam komunikasi dengan Teheran.

Lieberman menegaskan bahwa Israel tidak boleh menghentikan langkah militernya hanya karena perubahan sikap Washington. Menurutnya, tujuan utama tetap harus difokuskan pada upaya menjatuhkan rezim di Iran.

Dalam kesempatan yang sama, ia juga mengkritik keras pemerintah Israel yang dianggap tidak fokus menghadapi ancaman keamanan. Ia menilai pembahasan isu domestik di parlemen justru tidak sejalan dengan kondisi darurat yang dirasakan masyarakat, terutama di wilayah utara yang kerap dilanda peringatan serangan udara.

AS Tunda Serangan, Pilih Jalur Diplomasi

Di sisi lain, Trump mengumumkan kebijakan penundaan serangan militer terhadap fasilitas energi Iran selama lima hari. Keputusan ini diambil setelah adanya perkembangan yang dinilai positif dalam pembicaraan antara kedua pihak dalam beberapa hari terakhir.

Melalui pernyataannya, Trump menyebut dialog yang berlangsung menunjukkan arah yang konstruktif dan membuka peluang penyelesaian konflik secara menyeluruh di kawasan Timur Tengah.

Ia juga menegaskan bahwa penundaan tersebut bersifat sementara dan sangat bergantung pada hasil negosiasi yang masih berlangsung. Departemen Pertahanan AS pun telah diminta untuk menahan aksi militer selama periode tersebut.

Konflik Memanas dan Dampaknya Meluas

Ketegangan di kawasan meningkat sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar, termasuk tokoh penting Iran, Ali Khamenei.

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan menggunakan drone dan rudal ke berbagai target, termasuk wilayah Israel serta sejumlah negara di kawasan seperti Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat.

Aksi balasan tersebut menyebabkan kerusakan infrastruktur, korban jiwa, serta gangguan signifikan pada sektor ekonomi global, termasuk industri penerbangan dan perdagangan internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *