Pemerintah Sri Lanka dilaporkan menolak permintaan dari Amerika Serikat untuk menempatkan dua jet tempur bersenjata di Bandara Internasional Mattala pada awal Maret 2026.
Presiden Anura Kumara Dissanayake mengungkapkan bahwa pesawat tersebut dilengkapi dengan rudal anti-kapal dan direncanakan untuk mendukung operasi militer di tengah meningkatnya konflik dengan Iran. Meski demikian, pemerintah Sri Lanka memilih untuk tidak mengabulkan permintaan tersebut.
Keputusan ini diambil sebagai langkah untuk mempertahankan posisi netral negara di tengah situasi geopolitik yang semakin memanas. Pemerintah menilai bahwa memberikan izin kepada satu pihak berpotensi memunculkan tuntutan serupa dari pihak lain, yang dapat mengganggu prinsip netralitas yang selama ini dijaga.
Penolakan tersebut juga terjadi di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, menyusul eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Situasi ini tidak hanya memperburuk kondisi keamanan regional, tetapi juga mulai berdampak pada stabilitas global, termasuk sektor energi.
Dengan langkah ini, Sri Lanka menegaskan komitmennya untuk tetap berada di posisi netral di tengah dinamika konflik internasional yang terus berkembang.











