Jumlah korban tewas akibat serangan militer Israel ke Lebanon terus meningkat sejak eskalasi konflik yang dimulai awal Maret 2026.
Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Lebanon, total korban meninggal dunia sejak 2 Maret hingga 18 Maret telah mencapai 968 orang. Sementara itu, sebanyak 2.432 warga lainnya dilaporkan mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
Konflik Kembali Memanas
Ketegangan antara kedua pihak kembali meningkat setelah kelompok Hezbollah melancarkan serangan terhadap target militer pada 2 Maret. Aksi ini disebut sebagai balasan atas serangan sebelumnya yang dilakukan Israel di wilayah Lebanon.
Padahal, sebelum konflik terbaru ini, kedua pihak sempat berada dalam kondisi gencatan senjata sejak November 2024.
Dipicu Ketegangan Regional
Situasi semakin memanas setelah insiden tewasnya Ali Khamenei di Teheran, yang memicu reaksi berantai di kawasan Timur Tengah.
Pada hari yang sama, Israel memperluas operasi militernya dengan melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah strategis, termasuk pinggiran selatan Beirut serta area selatan dan timur Lebanon.
Operasi Darat Mulai Dilakukan
Tidak hanya serangan udara, pada 3 Maret Israel juga dilaporkan mulai melakukan operasi darat terbatas di wilayah selatan Lebanon. Langkah ini dilakukan setelah sebelumnya Israel bersama Amerika Serikat terlibat dalam operasi militer terhadap Iran pada 28 Februari.
Eskalasi konflik ini menimbulkan kekhawatiran akan meluasnya krisis di kawasan, sekaligus meningkatkan risiko dampak kemanusiaan yang lebih besar.











