Jakarta — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa gempa bumi yang mengguncang wilayah barat daya Pantai Pulau Batang Dua, Ternate, Maluku Utara hingga Bitung, Sulawesi Utara, dipicu oleh aktivitas deformasi atau pergeseran pada kerak bumi. Kesimpulan ini didasarkan pada analisis lokasi pusat gempa (episenter) serta kedalaman sumber gempa (hiposenter).
Pelaksana tugas Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, menjelaskan bahwa gempa tersebut tergolong gempa dangkal yang disebabkan oleh dinamika struktur kerak bumi.
Ia menambahkan bahwa hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan adanya pergerakan naik atau thrust fault, yang menjadi pemicu utama kejadian gempa tersebut.
Getaran gempa dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah. Di Kota Ternate, intensitas mencapai level V–VI MMI, di mana getaran dirasakan oleh hampir seluruh warga, bahkan menyebabkan kepanikan dan kerusakan ringan pada bangunan. Sementara itu, di wilayah Ibu, intensitas tercatat pada level V MMI, dan di Kota Manado berkisar antara IV hingga V MMI.
Guncangan juga terasa di beberapa daerah di Gorontalo seperti Gorontalo, Bone Bolango, dan Gorontalo Utara dengan intensitas III MMI. Sedangkan di Kabupaten Boalemo dan Pohuwato, getaran berada pada level II–III MMI, yang umumnya hanya dirasakan oleh sebagian orang dan menyebabkan benda ringan bergoyang.
BMKG juga mengungkapkan bahwa hasil pemodelan menunjukkan adanya potensi tsunami. Status siaga diberlakukan untuk sejumlah wilayah, termasuk Ternate, Halmahera, Tidore, Bitung, serta sebagian wilayah Minahasa. Sementara itu, status waspada ditetapkan untuk Kepulauan Sangihe dan beberapa wilayah lainnya di Sulawesi Utara.
Berdasarkan pemantauan muka air laut, gelombang tsunami telah terdeteksi di beberapa lokasi. Di Halmahera Barat, tinggi gelombang tercatat sekitar 0,30 meter, sementara di Bitung mencapai 0,20 meter. Di Sidangoli, ketinggian mencapai 0,35 meter. Selain itu, gelombang setinggi 0,75 meter terpantau di Minahasa Utara dan 0,68 meter di Belang.
Hingga pukul 06.50 WIB, BMKG mencatat setidaknya 11 gempa susulan (aftershock) dengan kekuatan terbesar mencapai magnitudo 5,5.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan hanya mengakses informasi resmi melalui kanal komunikasi yang telah diverifikasi guna menghindari penyebaran informasi yang tidak akurat.
