Internasional

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menuduh pasukan Amerika Serikat memanfaatkan warga sipil di kawasan Teluk sebagai tameng hidup.

41
×

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menuduh pasukan Amerika Serikat memanfaatkan warga sipil di kawasan Teluk sebagai tameng hidup.

Sebarkan artikel ini

Iran menuduh Amerika Serikat melanggar hukum internasional dengan menempatkan pasukan di area sipil, di tengah eskalasi konflik kawasan yang semakin memanas.

Tuduhan tersebut disampaikan melalui akun resminya di platform X pada Kamis, 26 Maret 2026. Dalam pernyataannya, Araghchi menyebut bahwa personel militer AS meninggalkan pangkalan mereka di wilayah Teluk dan justru berpindah ke area permukiman sipil.

Ia mengatakan langkah itu sama saja dengan menjadikan warga sipil sebagai pelindung dari potensi serangan. Pernyataan tersebut juga dikutip oleh media Press TV pada hari yang sama.

Araghchi kemudian membandingkan situasi ini dengan kebijakan di AS, yang menurutnya tidak memperbolehkan personel militer menginap di hotel jika dianggap berisiko bagi keselamatan tamu lain. Ia pun meminta pihak hotel di negara-negara Teluk untuk menerapkan kebijakan serupa.

Lebih lanjut, ia menilai tindakan tersebut bertentangan dengan prinsip hukum humaniter internasional. Menurutnya, keberadaan pasukan AS di area sipil justru meningkatkan ancaman terhadap masyarakat di negara-negara yang selama ini menjadi tuan rumah fasilitas militer AS.

Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan sejak akhir Februari antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Teheran menuduh serangan awal dalam konflik tersebut menyasar infrastruktur sipil dan menyebabkan ratusan korban jiwa.

Sebagai respons, Iran dilaporkan meluncurkan serangan rudal dan drone hampir setiap hari yang ditujukan ke sasaran militer di wilayah Israel serta pangkalan milik AS. Selain itu, Iran juga disebut-sebut menutup akses Selat Hormuz bagi kapal energi yang berafiliasi dengan pihak lawan.

Araghchi menegaskan bahwa langkah Iran merupakan bentuk ketegasan dalam menghadapi tekanan militer. Ia juga menyatakan negaranya akan terus memberikan perlawanan terhadap setiap serangan yang dianggap tidak berdasar.

Di sisi lain, ia mengkritik pimpinan militer AS yang dinilai lebih mengutamakan keselamatan pasukan sendiri dibandingkan perlindungan terhadap sekutu di kawasan. Pernyataan tersebut semakin memperkeruh situasi di tengah konflik regional yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *