Harapan masyarakat internasional untuk meredanya ketegangan kembali pupus setelah perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Pakistan tidak menghasilkan kesepakatan. Diplomasi yang sebelumnya diharapkan menjadi jalan menuju perdamaian justru berujung pada meningkatnya kekhawatiran akan konflik yang lebih luas.
Situasi semakin memanas ketika Presiden Donald Trump melontarkan ancaman untuk menutup akses ke Selat Hormuz. Langkah drastis ini menuai kritik tajam dari berbagai pihak, termasuk Tiongkok serta sejumlah sekutu NATO seperti Inggris dan Prancis yang menilai kebijakan tersebut berisiko memperburuk stabilitas global.
Di sisi lain, tekanan politik domestik di Amerika Serikat juga semakin kuat. Kegagalan jalur diplomasi memicu kembali wacana pemakzulan terhadap Trump di Kongres, seiring menurunnya tingkat kepercayaan publik terhadap kepemimpinannya, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Selat Hormuz kini menjadi titik krusial yang dampaknya melampaui kepentingan dua negara semata. Setiap langkah yang diambil berpotensi memengaruhi stabilitas dunia. Pertanyaannya, apakah rencana blokade akan meredam konflik atau justru memicu eskalasi yang lebih berbahaya?











