Rusia melancarkan serangan udara besar-besaran ke Ukraina dengan mengerahkan hampir 1.000 drone dalam waktu satu hari. Serangan ini mencakup salah satu aksi di siang hari terbesar sejak konflik berlangsung.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, mengecam keras aksi tersebut dan menyebutnya sebagai bentuk “kebejatan yang mutlak.” Menurut pihak angkatan udara Ukraina, Rusia mengirimkan sekitar 550 drone pada siang hari, setelah sebelumnya meluncurkan 392 drone pada malam sebelumnya.
Serangan ini menyebabkan sedikitnya delapan orang meninggal dunia serta merusak sejumlah lokasi penting, termasuk situs warisan dunia UNESCO di Lviv.
Di Ivano-Frankivsk, dua orang dilaporkan tewas dan sebuah rumah sakit bersalin mengalami kerusakan akibat serangan tersebut. Sementara itu, satu korban jiwa tercatat di wilayah Vinnytsia dalam serangan lanjutan di siang hari, setelah gelombang serangan malam sebelumnya menewaskan lima orang di berbagai kawasan permukiman.
Zelensky menyatakan bahwa tindakan ini mencerminkan kekejaman yang ekstrem, dan menyindir bahwa hanya Vladimir Putin yang bisa menganggapnya sebagai sesuatu yang menarik. Ia juga menegaskan bahwa besarnya skala serangan menunjukkan Rusia tidak memiliki niat serius untuk mengakhiri perang. Ukraina, katanya, akan memberikan respons atas setiap serangan yang terjadi.
Dampak Serangan di Berbagai Wilayah
Serangan di pusat Ivano-Frankivsk pada siang hari menewaskan dua orang dan melukai empat lainnya, termasuk seorang anak kecil. Selain itu, sekitar sepuluh bangunan tempat tinggal serta fasilitas medis mengalami kerusakan.
Di wilayah Vinnytsia, satu orang meninggal dunia dan sebelas lainnya terluka akibat serangan tersebut.
Sementara di Lviv, sedikitnya 13 orang harus dirawat di rumah sakit. Api terlihat berkobar di sebuah bangunan dekat gereja bersejarah abad ke-17 serta kompleks biara Bernardine yang terdampak serangan pada jam sibuk sore hari.
Petugas pemadam kebakaran bekerja keras memadamkan api di gedung apartemen yang rusak parah, dengan atap runtuh dan jendela hancur akibat ledakan.
Di ibu kota Kyiv, warga—termasuk ibu dan anak kecil—terpaksa berlindung di stasiun metro saat sirene peringatan serangan udara berbunyi pada siang hari, situasi yang jarang terjadi.
Pada malam sebelumnya, serangan rudal dan drone Rusia juga menghantam infrastruktur energi, transportasi, dan permukiman di sejumlah wilayah seperti Poltava, Kharkiv, Zaporizhzhia, dan Kherson. Serangan ini menewaskan lima orang dan melukai puluhan lainnya.
Selain itu, serangan tersebut juga memutus jalur listrik penting yang menghubungkan Moldova dengan jaringan energi Eropa, sehingga negara itu menetapkan status darurat. Jalur listrik lain yang mengarah ke pembangkit nuklir Zaporizhzhia juga terputus, menurut laporan Badan Energi Atom Internasional.
Situasi Perang dan Upaya Diplomasi
Di wilayah Kursk, satu orang tewas dan 13 lainnya terluka akibat serangan balasan dari Ukraina yang mengenai area pertanian.
Juru bicara angkatan udara Ukraina, Yuriy Ignat, menyebut serangan ini sebagai salah satu yang terbesar yang pernah terjadi pada siang hari. Ia menegaskan bahwa serangan dengan jumlah drone sebesar ini pada siang hari merupakan kejadian yang belum pernah ia saksikan sebelumnya.
Sejak invasi besar-besaran Rusia pada Februari 2022, yang memicu konflik berkepanjangan, serangan udara umumnya dilakukan pada malam hari. Oleh karena itu, intensitas serangan siang hari kali ini dinilai tidak biasa.
Serangan ini juga terjadi saat Ukraina menghadapi kekhawatiran menipisnya persediaan sistem pertahanan udara dari Amerika Serikat, terutama di tengah meningkatnya ketegangan global di kawasan Timur Tengah.
Upaya diplomatik pun belum menunjukkan hasil signifikan. Putaran ketiga perundingan yang dimediasi oleh Amerika Serikat antara Moskow dan Kyiv terhambat oleh situasi geopolitik yang lebih luas.
Ukraina diketahui telah mengirim delegasi ke Amerika Serikat untuk menghidupkan kembali proses negosiasi, namun hingga kini belum membuahkan kesepakatan.
Selain itu, Kyiv juga berupaya menukar keahlian dan teknologi anti-drone dengan sistem rudal pertahanan udara konvensional yang sangat dibutuhkan. Ukraina bahkan telah mengirim sekitar 200 ahli militernya ke negara-negara Teluk yang tengah menghadapi ancaman serangan drone dari Iran.











