Washington — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menuai perhatian publik setelah membagikan ulang gambar hasil kecerdasan buatan (AI) yang memperlihatkan dirinya bersama sosok Yesus. Unggahan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan dengan Paus Leo XIV.
Gambar tersebut diunggah melalui platform Truth Social. Dalam visual itu, Trump tampak berdiri di depan mikrofon dengan latar bendera Amerika Serikat, sementara figur Yesus digambarkan berada dekat dengannya, seolah merangkul atau menyandarkan kepala.
Ia menambahkan keterangan bernuansa politis dalam unggahan tersebut, menyebut bahwa kalangan kiri radikal kemungkinan tidak akan menyukainya, tetapi menurutnya gambar itu terlihat baik.
Konten tersebut diketahui berasal dari akun pendukung Trump di platform X, yang juga mengaitkannya dengan teori konspirasi sayap kanan terkait kasus Jeffrey Epstein. Namun demikian, tidak ada bukti resmi yang dapat menguatkan klaim mengenai praktik ritual atau pengorbanan anak dalam kasus tersebut berdasarkan dokumen pemerintah Amerika Serikat.
Kontroversi ini muncul tidak lama setelah Trump menghapus unggahan lain yang juga menampilkan dirinya dalam citra menyerupai Yesus, yang sebelumnya menuai kritik luas dari berbagai pihak. Ia kemudian menjelaskan bahwa gambar tersebut sebenarnya dimaksudkan sebagai representasi dirinya sebagai seorang dokter.
Menurut Trump, hanya media yang dianggapnya tidak kredibel yang menafsirkan unggahan tersebut secara berbeda. Ia juga menyebut penghapusan konten dilakukan untuk mencegah kesalahpahaman di masyarakat.
Ketegangan dengan Paus Leo XIV Meningkat
Di sisi lain, hubungan antara Trump dan Paus Leo XIV semakin memanas. Pemimpin Gereja Katolik itu dikenal vokal dalam mengkritik konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, serta menyatakan tidak takut menghadapi tekanan politik.
Dalam pidato yang disampaikan di Aljazair, Paus Leo menyoroti peran kekuatan global yang dinilainya melanggar hukum internasional, meski tidak menyebut negara secara langsung. Ia juga mengingatkan bahwa demokrasi dapat mengalami kemunduran menjadi “tirani mayoritas,” dan menegaskan komitmennya untuk terus menyuarakan kritik terhadap konflik di Iran.
Trump merespons pernyataan tersebut dengan nada tegas. Ia menyatakan bahwa seseorang perlu memberi informasi kepada Paus Leo mengenai situasi kekerasan di Iran. Ia juga menekankan bahwa kepemilikan senjata nuklir oleh Teheran tidak dapat ditoleransi, serta melontarkan kritik keras dengan menyebut Paus sebagai sosok yang lemah dalam menghadapi persoalan global.
Wakil Presiden AS, JD Vance, turut memberikan tanggapan dengan menyebut bahwa Paus Leo keliru dalam memahami aspek teologi terkait perang. Sementara itu, Ketua DPR dari Partai Republik, Mike Johnson, menilai kritik terhadap pemimpin gereja merupakan hal yang wajar, terutama jika tokoh agama terlibat dalam isu politik, termasuk konsep “perang yang adil” dalam ajaran Kristen.
Di pihak lain, organisasi Katolik di Amerika Serikat, Knights of Columbus, menyatakan dukungannya terhadap Paus Leo. Mereka menilai seruan perdamaian yang disampaikan mencerminkan nilai-nilai Injil, bukan sekadar sikap politik.
Meski reaksi publik terhadap unggahan terbaru Trump tidak sebesar kontroversi sebelumnya, peristiwa ini kembali memperlihatkan tajamnya perbedaan pandangan antara pemerintah Amerika Serikat dan Vatikan, khususnya terkait isu konflik internasional, nilai kemanusiaan, serta peran agama dalam ranah politik global.









