Ekonomi

Harga Emas dan Perak Melemah di Tengah Gejolak Global, Investor Dilanda Ketidakpastian

12
×

Harga Emas dan Perak Melemah di Tengah Gejolak Global, Investor Dilanda Ketidakpastian

Sebarkan artikel ini

Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi menekan harga emas dan perak, meski ketegangan geopolitik global biasanya mendorong logam mulia sebagai aset safe haven.

Emas
Emas

dakisemut.co.id, Jakarta – Harga logam mulia seperti emas dan perak mengalami penurunan di tengah penguatan dolar Amerika Serikat. Kondisi ini cukup mengejutkan pasar karena biasanya emas justru menguat ketika ketegangan geopolitik meningkat.

Berdasarkan data pasar dari Refinitiv, harga emas pada perdagangan Rabu (11/3/2026) ditutup di level sekitar US$5.175,45 per troy ons atau naik tipis 0,31 persen dibandingkan hari sebelumnya. Namun, pada perdagangan Kamis pagi (12/3/2026) sekitar pukul 06.29 WIB, harga emas kembali melemah menjadi sekitar US$5.153,27 per troy ons atau turun sekitar 0,43 persen.

Penurunan harga emas dan perak ini terjadi meskipun situasi geopolitik dunia sedang memanas. Biasanya, logam mulia seperti emas dianggap sebagai aset perlindungan (safe haven) ketika ketidakpastian global meningkat.

Namun kali ini pergerakan pasar menunjukkan arah berbeda. Sebagian investor justru memindahkan dana mereka ke dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Indeks dolar yang mencerminkan kekuatan mata uang AS naik menjadi sekitar 99,23 pada Rabu, meningkat dari posisi sekitar 98,8 pada hari sebelumnya. Karena perdagangan emas secara global menggunakan denominasi dolar AS, penguatan mata uang tersebut dapat menekan permintaan terhadap logam mulia.

Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury juga meningkat tajam. Yield obligasi tersebut tercatat mencapai sekitar 4,23 persen, level tertinggi sejak awal Februari 2026.

Kenaikan imbal hasil obligasi membuat emas menjadi kurang menarik bagi investor, karena logam mulia tidak memberikan bunga atau imbal hasil seperti instrumen keuangan lainnya.

Meski mengalami tekanan dalam jangka pendek, kondisi pasar logam mulia secara keseluruhan masih cukup kuat. Harga emas masih berada dekat dengan rekor tertingginya yang sempat menembus kisaran US$5.200 per troy ons.

Sementara itu, harga perak juga tetap berada di area tertinggi dalam beberapa tahun terakhir setelah mengalami kenaikan signifikan sejak awal tahun.

Sejumlah analis menilai penurunan harga yang terjadi saat ini lebih disebabkan oleh faktor makroekonomi jangka pendek, bukan karena melemahnya permintaan dalam jangka panjang.

Permintaan terhadap perak bahkan terus meningkat, terutama dari sektor industri seperti energi surya dan pengembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah juga tetap menjaga minat investor terhadap aset safe haven.

Dengan demikian, pergerakan harga logam mulia saat ini mencerminkan tarik-menarik antara faktor ekonomi global seperti penguatan dolar dan kenaikan suku bunga dengan risiko geopolitik yang biasanya mendorong kenaikan harga emas dan perak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *