Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2026 mencatatkan surplus sebesar USD1,27 miliar. Capaian ini berasal dari total nilai ekspor sebesar USD22,17 miliar dan impor USD20,89 miliar.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi pers di Jakarta pada Rabu, 1 April 2026, menyampaikan bahwa nilai ekspor Indonesia pada periode tersebut mengalami kenaikan sebesar 1,01 persen dibandingkan Februari tahun sebelumnya.
Menurut Ateng, pertumbuhan ekspor tersebut terutama ditopang oleh sektor nonmigas. Beberapa komoditas yang memberikan kontribusi signifikan antara lain lemak dan minyak hewani maupun nabati, nikel beserta produk turunannya, serta mesin dan peralatan listrik berikut komponennya.
Di sisi lain, sektor industri pengolahan juga menunjukkan kinerja positif. Nilai ekspor dari sektor ini meningkat 5,24 persen secara tahunan, dengan kontribusi kenaikan sebesar 4,21 persen terhadap total ekspor.
Sementara itu, impor Indonesia pada Februari 2026 turut mengalami peningkatan. Secara tahunan, nilai impor naik sebesar 10,85 persen, terutama didorong oleh kenaikan impor nonmigas yang memberikan kontribusi sebesar 15,47 persen terhadap total impor.
Lebih lanjut, Ateng menjelaskan bahwa lonjakan impor juga dipengaruhi oleh meningkatnya pembelian barang modal. Pada Februari 2026, impor barang modal tercatat tumbuh sebesar 33,68 persen secara tahunan, dengan andil sebesar 6,16 persen terhadap total impor.











