Ekonomi

Defisit APBN Tetap Terkendali di Bawah 3 Persen, Purbaya: Kondisi Masih Aman

14
×

Defisit APBN Tetap Terkendali di Bawah 3 Persen, Purbaya: Kondisi Masih Aman

Sebarkan artikel ini

Pemerintah optimistis menjaga defisit fiskal tetap terkendali meski tekanan harga minyak global meningkat akibat konflik geopolitik.

Jakarta – Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, memastikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2026 tetap berada di bawah ambang batas 3 persen, meskipun terjadi tekanan akibat kenaikan harga energi global.

Menurutnya, pemerintah telah melakukan berbagai perhitungan matang. Bahkan jika harga minyak dunia rata-rata mencapai USD100 per barel, defisit masih dapat dijaga di kisaran 2,9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Semua sudah kami perhitungkan. Dengan asumsi harga minyak mencapai USD100 per barel, defisit tetap di bawah 3 persen, sekitar 2,9 persen. Jadi, tidak ada masalah,” ujar Purbaya saat ditemui di Jakarta, Kamis (2/4/2026).

Dampak Geopolitik terhadap Proyeksi Defisit

Awalnya, defisit APBN 2026 diperkirakan sebesar Rp698,15 triliun atau setara 2,68 persen dari PDB. Namun, ketegangan geopolitik akibat konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran turut mendorong kenaikan proyeksi defisit sekitar 0,12 persen.

Konflik tersebut memicu lonjakan harga minyak di pasar global. Harga minyak mentah jenis Brent dan West Texas Intermediate (WTI) sempat menyentuh kisaran USD100 per barel, jauh di atas rata-rata harga pada Januari 2026 yang berada di sekitar USD64 per barel untuk Brent.

Meski demikian, Purbaya menilai kenaikan defisit tersebut relatif kecil dan masih dalam batas aman.

Harga Minyak Mulai Stabil

Purbaya menambahkan, asumsi defisit 2,9 persen dibuat dengan skenario harga minyak bertahan di USD100 per barel sepanjang tahun. Namun, kondisi terkini menunjukkan harga mulai menurun.

“Sekarang rata-rata sudah turun ke kisaran USD76–USD77 per barel. Jadi masih di bawah asumsi awal,” jelasnya.

Strategi Pengendalian Defisit

Untuk menjaga keseimbangan fiskal, pemerintah melakukan efisiensi belanja di berbagai kementerian dan lembaga. Selain itu, pemerintah juga memiliki cadangan berupa Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang cukup besar.

Saat ini, SAL tercatat mencapai sekitar Rp420 triliun dan dapat digunakan jika kondisi mendesak.

“Kalau memang diperlukan, kami punya SAL sebagai cadangan. Nilainya sekitar Rp420 triliun dan bisa dimanfaatkan jika situasi benar-benar membutuhkan,” kata Purbaya.

Kondisi Fiskal Masih Kuat

Meski harga minyak dunia mengalami kenaikan dan pemerintah tetap menahan harga BBM subsidi maupun nonsubsidi, hingga saat ini SAL belum digunakan.

Purbaya menegaskan bahwa kondisi keuangan negara masih sangat solid dan memiliki bantalan fiskal yang cukup kuat untuk menghadapi berbagai tekanan eksternal.

“Belum digunakan. Kondisi fiskal kita masih sangat baik, dengan cadangan yang cukup kuat,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *