Ekonomi

QRIS Go International, Momentum Integrasi Sistem Pembayaran Nasional

11
×

QRIS Go International, Momentum Integrasi Sistem Pembayaran Nasional

Sebarkan artikel ini

Ekspansi QRIS lintas negara dan integrasi sistem pembayaran memperkuat peran digitalisasi dalam mendorong inklusi keuangan dan pertumbuhan industri fintech nasional.

Jakarta — Transformasi sistem pembayaran digital di Indonesia kini memasuki babak baru. Jika sebelumnya fokus utama adalah kemudahan transaksi, kini arah pengembangan bergeser ke pembentukan ekosistem yang lebih terintegrasi, kolaboratif, dan tahan terhadap berbagai risiko.

Meluasnya penggunaan QRIS, baik di dalam negeri maupun lintas negara, menjadi indikator penting perubahan ini. Regulator dan pelaku industri menilai bahwa pertumbuhan selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh sinergi antar pihak, kesiapan infrastruktur, serta manajemen risiko yang matang.

Wakil Ketua Umum II Asosiasi Fintech Indonesia, Budi Gandasoebrata, menyebut industri pembayaran digital telah mencapai tahap yang lebih dewasa. Menurutnya, perhatian kini tidak lagi hanya pada akses, tetapi juga integrasi layanan dan penguatan kualitas ekosistem.

“Pembayaran digital kini berfungsi sebagai penggerak utama berbagai layanan lain, seperti pembiayaan dan asuransi berbasis digital,” ujarnya dalam acara Fintech Talk Finpay di Jakarta.

Ia juga menyoroti langkah Bank Indonesia yang terus memperluas implementasi QRIS lintas negara, termasuk kerja sama terbaru dengan Korea Selatan. Hal ini memungkinkan masyarakat Indonesia melakukan transaksi di luar negeri menggunakan QRIS, menandakan sistem pembayaran nasional semakin terhubung secara global.

Dari sisi industri, Business & Marketing Director FinPay, Aziz Sidqi, melihat lonjakan penggunaan QRIS sebagai cerminan perubahan gaya hidup masyarakat, terutama generasi milenial dan Gen Z.

“Pembayaran digital sudah menjadi bagian dari keseharian. Ke depan, QRIS berpotensi menjadi metode pembayaran utama, bukan lagi sekadar alternatif,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Ryan Rizaldy, mengungkapkan adanya reformasi struktural melalui pengelompokan Penyelenggara Sistem Pembayaran (PSP) menjadi kategori Utama dan Non-Utama. PSP Utama nantinya akan memiliki akses lebih luas terhadap infrastruktur karena skala dan tingkat konektivitasnya.

Selain itu, Bank Indonesia juga mendorong integrasi infrastruktur industri dengan sistem seperti BI-FAST guna meningkatkan efisiensi dan ketahanan sistem pembayaran nasional.

Dari sisi teknologi, Director Technology Product & Operation FinPay, Apep MK Noormansyah, menegaskan pentingnya kesiapan sistem dalam menghadapi lonjakan transaksi, terutama saat Ramadan, libur panjang, atau periode gajian.

“Saat ini sistem kami mampu memproses sekitar 1.000 transaksi per detik dengan utilisasi masih di bawah 50 persen, sehingga masih ada ruang untuk pertumbuhan,” ujarnya.

Ia menambahkan, penerapan konsep high availability menjadi faktor krusial untuk menjaga stabilitas layanan di tengah meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap pembayaran digital.

Perkembangan ini juga mendorong pertumbuhan sektor lain, seperti asuransi digital dan pembiayaan berbasis teknologi. Board Advisor Qoala, Muhammad Iqbal, menilai pembayaran digital menjadi fondasi penting dalam distribusi produk asuransi, khususnya mikro.

“Jika dulu tantangannya pada pengumpulan premi, kini distribusi dan monetisasi produk jauh lebih efisien,” katanya.

Pandangan serupa disampaikan Direktur Utama Samir, Yonathan Gautama, yang menyebut sistem pembayaran sebagai mesin utama dalam fintech lending, termasuk untuk pengembangan credit scoring berbasis data transaksi.

Di sektor pembiayaan digital, Direktur Indodana Finance, Iwan Dewanto, menambahkan bahwa integrasi pembayaran turut mendorong pertumbuhan layanan Buy Now Pay Later (BNPL), yang bisa meningkat hingga 50–70 persen pada periode tertentu.

Menurutnya, efisiensi layanan BNPL didukung oleh proses digital menyeluruh, mulai dari verifikasi identitas hingga pencairan dana yang dapat dilakukan dalam hitungan menit.

“Dalam skema ini, sistem pembayaran memegang peran penting karena memungkinkan transaksi berlangsung cepat dan tanpa hambatan,” jelasnya.

Selain meningkatkan efisiensi, integrasi sistem pembayaran juga memperluas inklusi keuangan dengan menjangkau masyarakat yang belum tersentuh layanan perbankan. Meski demikian, pelaku industri menekankan pentingnya pengelolaan risiko yang disiplin agar pertumbuhan tetap berkelanjutan.

Ke depan, masa depan sistem pembayaran digital Indonesia diyakini akan sangat bergantung pada kolaborasi erat antara regulator, asosiasi, dan pelaku industri, guna menjaga keseimbangan antara inovasi, keamanan, dan keberlanjutan ekosistem.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *