Ekonomi

Bitcoin vs Emas: Mana Lebih Tahan di Tengah Ketidakpastian Global?

21
×

Bitcoin vs Emas: Mana Lebih Tahan di Tengah Ketidakpastian Global?

Sebarkan artikel ini

Bitcoin dan emas kembali diuji sebagai aset lindung nilai di tengah konflik geopolitik global, dengan dinamika pasar yang menunjukkan keunggulan berbeda dalam kondisi krisis.

Jakarta — Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran menjadi salah satu peristiwa paling mengguncang pasar global sejak 2022. Meski demikian, perdebatan mengenai aset mana yang lebih aman—Bitcoin atau emas—masih belum menemukan jawaban pasti, berdasarkan analisis terbaru dari Capital.com.

Mengacu pada laporan Investing.com pada Minggu, 19 April 2026, pasar sempat menguat pada Jumat, 17 April setelah Iran memastikan bahwa Selat Hormuz kembali dibuka untuk jalur pelayaran. Hal ini terjadi setelah tercapainya gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.

Dalam laporannya, Capital.com mengungkapkan bahwa setelah gejolak awal, investor ritel tidak secara signifikan beralih ke Bitcoin. Sebaliknya, minat mereka justru mengarah ke komoditas minyak. Ini terjadi meskipun harga Bitcoin sebenarnya sempat naik hampir 20 persen dari posisi terendah pasca serangan.

Data dari platform tersebut menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan Bitcoin justru menurun sekitar 9 persen dibandingkan sebelum konflik terjadi. Sementara itu, emas tetap mempertahankan posisinya sebagai aset lindung nilai tradisional. Di sisi lain, minyak mencatat lonjakan paling drastis, dengan jumlah trader unik meningkat hingga 328 persen dan volume transaksi melonjak lebih dari 1.000 persen dibandingkan rata-rata sebelumnya.

Capital.com juga mencatat bahwa ketika serangan militer oleh AS dan Israel terhadap Iran terjadi pada 28 Februari, pasar kripto langsung bereaksi tajam. Dalam hitungan jam, nilai kapitalisasi pasar kripto menyusut lebih dari USD128 miliar. Harga Bitcoin turun dari kisaran USD66.000 ke sekitar USD63.000, sementara harga emas justru menguat.


Bitcoin Tetap Rentan di Tengah Ketidakpastian

Menurut Capital.com, respons tersebut menunjukkan bahwa Bitcoin kini semakin dipengaruhi oleh kepemilikan institusional. Kondisi ini membuatnya lebih sensitif terhadap aksi jual saat terjadi ketidakpastian global, mirip dengan perilaku pasar saham.

Meski demikian, pemulihan Bitcoin selama periode konflik menambah dimensi baru dalam perdebatan ini. Dalam beberapa fase, Bitcoin bahkan mampu mengungguli kinerja saham, sebagian karena meningkatnya sentimen anti terhadap mata uang fiat di tengah ketegangan geopolitik.

Capital.com juga menyoroti laporan bahwa Iran sempat memanfaatkan Bitcoin untuk transaksi tertentu saat Selat Hormuz ditutup. Hal ini dinilai sebagai contoh nyata penggunaan Bitcoin sebagai alternatif sistem pembayaran di tengah pembatasan ekonomi.

Analis Pasar Senior, Kyle Rodda, menyatakan bahwa peristiwa ini memperlihatkan bagaimana Bitcoin berada di persimpangan berbagai faktor, seperti inflasi, sanksi ekonomi, dan sentimen risiko global.

Pada akhirnya, Capital.com menyimpulkan bahwa perdebatan mengenai aset safe haven kini memiliki data tambahan, namun belum ada kesimpulan mutlak tentang pemenangnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *