Ekonomi

Bagaimana Arah Pergerakan Harga Minyak Dunia Sepanjang 2026

9

Gejolak Geopolitik dan Kebijakan OPEC+ Jadi Kunci Arah Harga Minyak 2026

Harga minyak mentah global diperkirakan tetap memiliki momentum untuk terus meningkat hingga memasuki paruh kedua tahun ini, meskipun sejak awal 2026 tekanan geopolitik sudah memengaruhi pasar crude. Situasi seperti intervensi militer AS terhadap Presiden Venezuela Nicolás Maduro, wacana akuisisi Greenland oleh Presiden Trump, serta konflik yang meningkat antara AS dan Iran telah menjadi faktor yang mendorong harga minyak kembali naik, bahkan mencapai sekitar USD 90 per barel di awal Maret 2026 dari level sekitar USD 57 per barel di awal Januari 2026, menurut analis pasar dari ICDX, Girta Putra Yoga dalam rilisnya, Rabu (25/3/2026).

Melihat sentimen dan dinamika yang terjadi, diprediksi bahwa sepanjang 2026 harga minyak dunia akan bergerak dalam rentang USD 95–USD 100 per barel, sementara level dukungan (support) diperkirakan berada di sekitar USD 75–USD 80 per barel. Fokus utama market watcher saat ini masih pada eskalasi konflik di Timur Tengah—terutama perang AS–Iran—serta kebijakan produksi dari OPEC+ dan pergerakan tarif dagang oleh Amerika Serikat.

Kondisi yang Menjadi Tantangan Bagi Harga Minyak

Sepanjang tahun 2025, harga minyak mengalami berbagai tantangan. Secara tahunan, harga rata‑rata komoditas ini turun lebih dari 21 %, berakhir di kisaran USD 60 per barel pada akhir 2025, padahal sempat diperdagangkan di level sekitar USD 77 per barel di awal tahun.

Pada paruh pertama 2025, tercatat ada penurunan hampir 10 % dengan rata‑rata harga minyak mentah diperdagangkan di sekitar USD 69 per barel. Laju harga ini dipengaruhi oleh tekanan dari perang tarif yang diterapkan AS terhadap Tiongkok serta negara‑negara mitra dagang lainnya seperti Kanada dan Meksiko. Akibatnya, harga minyak mentah sempat bergerak turun tajam sampai menyentuh sekitar USD 62 per barel di bulan Mei, sebelum membaik ketika AS dan Tiongkok sepakat melakukan penangguhan sementara tarif selama 90 hari.

Penguatan harga minyak berlanjut hingga kuartal pertama berkat sinyal meningkatnya konflik di Timur Tengah setelah Israel melancarkan operasi ke wilayah Iran. Namun, tren tersebut tidak bertahan lama. Memasuki pembukaan paruh kedua 2025, kabar ancaman tarif baru dari AS meskipun beberapa negara melakukan pembicaraan positif membuat harga minyak kembali tertekan.

Selain itu, sinyal dari OPEC+ yang berpotensi menambah output serta gencatan senjata pertama di Gaza yang dimulai Oktober lalu turut ikut mendorong tren penurunan harga. Selama paruh kedua 2025, harga rata‑rata minyak turun sekitar 13 %, diperdagangkan di kisaran USD 64 per barel.

Optimisme di Awal 2026

Memasuki 2026, optimisme kembali muncul di pasar minyak. Komitmen yang ditegaskan oleh negara‑negara produsen di bawah aliansi OPEC untuk mempertahankan kebijakan produksi hingga akhir tahun dipandang sebagai katalis bagi kenaikan harga minyak mentah global.

🔎 Catatan konteks global: Pergerakan harga minyak dunia tahun ini turut dipengaruhi oleh berbagai tekanan geopolitik seperti konflik di Timur Tengah yang mendorong risk premium di pasar energi. Beberapa berita bahkan melaporkan fluktuasi tajam di sesi perdagangan Brent dan WTI akibat berita tentang gencatan senjata atau meningkatnya ketegangan di wilayah tersebut.

Exit mobile version