Internasional

Lebanon dan Israel Sepakati Perpanjangan Gencatan Senjata Selama Tiga Minggu

32

Upaya Diplomatik AS Dorong Perpanjangan Gencatan Senjata Israel–Lebanon di Tengah Ketegangan dengan Hizbullah

Washington – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa Israel dan Lebanon telah menyetujui perpanjangan gencatan senjata dengan kelompok Hizbullah selama tiga minggu. Kesepakatan ini dicapai setelah pertemuan di Gedung Putih pada Kamis, 23 April 2026 waktu setempat.

Trump menyebutkan bahwa dialog antara perwakilan Israel dan Lebanon di Amerika Serikat berlangsung dengan sangat positif. Pertemuan tersebut menjadi lanjutan dari pembicaraan tingkat tinggi kedua negara yang sebelumnya juga digelar pekan lalu.

Gencatan senjata awal yang hanya berlaku selama 10 hari dan dimulai pada Jumat sebelumnya, sejatinya dijadwalkan berakhir pada hari Senin. Namun, kesepakatan baru ini memperpanjang masa jeda konflik tersebut.

Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat akan bekerja sama dengan Lebanon untuk membantu negara tersebut mempertahankan diri dari ancaman Hizbullah. Ia juga menyatakan harapan untuk segera bertemu langsung dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun dalam waktu dekat.

Dalam pertemuan tersebut, Trump menerima kunjungan Duta Besar Lebanon untuk AS, Nada Hamadeh Moawad, serta Duta Besar Israel, Yechiel Leiter. Sejumlah pejabat tinggi AS juga turut hadir, termasuk Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, serta beberapa duta besar dan penasihat senior lainnya.

Dalam kesempatan itu, Yechiel Leiter menyampaikan harapan agar proses diplomasi ini dapat membuka jalan menuju perdamaian antara Israel dan Lebanon. Sementara itu, Nada Hamadeh Moawad menyampaikan apresiasi atas dukungan AS terhadap Lebanon dan berharap bantuan tersebut dapat memperkuat negara mereka.

Presiden Lebanon, Joseph Aoun, sebelumnya menyampaikan bahwa perpanjangan gencatan senjata 10 hari telah diajukan melalui jalur diplomatik. Ia juga menekankan pentingnya menghentikan penghancuran rumah-rumah di wilayah yang terdampak konflik serta membuka jalan bagi stabilitas jangka panjang.

Aoun menjelaskan bahwa pembicaraan lanjutan di masa depan diharapkan mencakup penghentian serangan secara total, penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon, pembebasan tahanan Lebanon, hingga penempatan pasukan nasional di sepanjang perbatasan. Selain itu, proses rekonstruksi juga menjadi agenda penting.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar menyerukan agar Lebanon bekerja sama dalam upaya pelucutan senjata Hizbullah yang didukung Iran. Ia menyebut bahwa konflik perbatasan kedua negara relatif kecil dan masih bisa diselesaikan melalui dialog, namun menurutnya Hizbullah menjadi hambatan utama bagi normalisasi hubungan.

Saar juga menilai bahwa Lebanon tengah menghadapi masalah internal yang serius, bahkan menyebutnya sebagai negara dengan tantangan pemerintahan yang besar. Ia menegaskan bahwa masa depan Lebanon bergantung pada kemampuannya untuk lepas dari pengaruh eksternal, khususnya Iran melalui Hizbullah.

Konflik terbaru sendiri dipicu oleh serangan roket Hizbullah ke wilayah Israel utara, yang terjadi tak lama setelah ketegangan regional meningkat. Israel kemudian melancarkan serangan balasan besar-besaran ke wilayah Lebanon, termasuk operasi darat di sejumlah kota perbatasan.

Saat ini, militer Israel masih mempertahankan kehadiran di zona penyangga di Lebanon selatan. Pemerintah Israel menyatakan langkah tersebut bertujuan untuk mencegah ancaman serangan roket jarak pendek dan rudal anti-tank.

Namun, Hizbullah menolak terlibat dalam kesepakatan yang dibahas melalui pertemuan langsung tersebut. Salah satu tokoh senior kelompok itu menegaskan bahwa mereka tidak akan mematuhi perjanjian yang dihasilkan dari negosiasi semacam itu.

Meski demikian, langkah diplomatik ini dianggap sebagai kemajuan penting antara dua negara yang hingga kini belum memiliki hubungan resmi dan secara historis pernah terlibat konflik sejak 1948.

Pemerintah Lebanon berharap proses ini dapat menjadi awal dari berakhirnya perang secara permanen, meskipun para analis menilai hasil akhirnya masih sangat bergantung pada dinamika politik dan militer di kedua pihak dalam beberapa minggu ke depan.

Exit mobile version