Pemerintah melaporkan bahwa realisasi pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2026 mencapai sekitar Rp164,2 triliun hingga 28 Februari 2026.
Data dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia menunjukkan bahwa angka tersebut lebih rendah sekitar 33,2 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Pada awal 2025, pembiayaan anggaran tercatat sekitar Rp246 triliun atau setara dengan 47,1 persen dari total pagu APBN saat itu.
Jika dibandingkan dengan target defisit APBN tahun ini yang sebesar Rp832,2 triliun, realisasi pembiayaan tersebut baru mencakup sekitar 22,3 persen.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menjelaskan bahwa kondisi pembiayaan negara masih dalam kondisi terkendali. Hingga akhir Februari, realisasi pembiayaan tercatat sekitar Rp185,3 triliun atau sekitar 22,3 persen dari target defisit yang telah ditetapkan pemerintah.
Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers APBN KiTa yang digelar pada 11 Maret 2026.
APBN Mengalami Defisit
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa posisi APBN hingga Februari 2026 berada dalam kondisi defisit sebesar Rp135,7 triliun.
Nilai tersebut setara dengan sekitar 0,53 persen dari Produk Domestik Bruto atau Produk Domestik Bruto (PDB).
Defisit terjadi karena total pengeluaran pemerintah lebih besar dibandingkan penerimaan negara. Hingga akhir Februari 2026, pendapatan negara tercatat sekitar Rp358 triliun, sementara belanja negara mencapai Rp493,8 triliun.
Meski demikian, penerimaan negara menunjukkan pertumbuhan positif dengan kenaikan sekitar 12,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut Purbaya, kondisi defisit tersebut masih sesuai dengan kerangka dan perencanaan APBN 2026 yang telah ditetapkan pemerintah.
Defisit Sudah Terjadi Sejak Awal Tahun
Purbaya juga menjelaskan bahwa defisit yang cukup besar sejak awal tahun bukanlah hal yang mengejutkan karena sudah menjadi bagian dari desain kebijakan fiskal pemerintah.
Dalam dua bulan pertama tahun ini, yakni Januari hingga Februari 2026, defisit APBN tercatat sebesar Rp135,7 triliun. Angka tersebut meningkat tajam sekitar 342,4 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang hanya sekitar Rp30,7 triliun.
Ia menegaskan bahwa perbedaan kondisi antara tahun lalu dan tahun ini tidak perlu disalahartikan. Menurutnya, struktur APBN memang dirancang dengan pola defisit untuk mendukung berbagai program pemerintah.
