Salah satu rumah sakit pemerintah utama di Beirut masih terus memberikan layanan kesehatan meskipun muncul kekhawatiran terkait potensi serangan dari Israel. Hingga kini, belum ada langkah evakuasi yang dilakukan terhadap fasilitas tersebut.
Manajemen rumah sakit menyatakan kekhawatiran mereka akan kemungkinan terjebak dalam konflik bersenjata, terutama setelah militer Israel mengeluarkan peringatan evakuasi untuk kawasan sekitar lokasi rumah sakit. Meski situasi di sekelilingnya dinilai berisiko tinggi, tenaga medis tetap menjalankan tugas kemanusiaan mereka untuk merawat pasien.
World Health Organization (WHO) mendesak agar Rumah Sakit Universitas Rafik Hariri tidak menjadi sasaran serangan. WHO juga mengingatkan bahwa beberapa fasilitas kesehatan menghadapi ancaman kekurangan stok medis akibat meningkatnya jumlah korban.
Sementara itu, juru bicara Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Stéphane Dujarric, melaporkan bahwa hampir 1.900 orang telah meninggal dunia dan lebih dari 6.000 lainnya mengalami luka-luka di Lebanon sejak 2 Maret.
Ia juga menyampaikan bahwa WHO memperingatkan kondisi darurat pada pasokan medis. Dalam situasi lonjakan korban yang tajam, persediaan yang seharusnya mencukupi hingga tiga minggu dilaporkan habis hanya dalam waktu satu hari.
