Beirut – Kelompok bersenjata Hizbullah mengeluarkan kecaman keras terhadap gelombang serangan yang dilakukan oleh Israel di sejumlah wilayah Lebanon, termasuk ibu kota Beirut. Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan banyak korban dari kalangan sipil.
Dalam pernyataan resminya, Hizbullah menilai bahwa aksi militer Israel tersebut mencerminkan kegagalan dalam mencapai target-target strategis di medan perang. Mereka menyebut serangan yang terjadi sebagai tindakan kekerasan yang meluas dan menyasar area permukiman.
Serangan udara dilaporkan terjadi di berbagai lokasi, termasuk wilayah Saida dan kawasan Lembah Bekaa. Menurut Hizbullah, serangan tersebut menghantam daerah padat penduduk dan menyebabkan korban jiwa dalam jumlah besar, termasuk perempuan, anak-anak, dan warga lanjut usia.
Kelompok tersebut juga menilai bahwa serangan yang menyasar pusat aktivitas masyarakat—seperti pasar dan kawasan perdagangan—merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Mereka menyebut tindakan itu sebagai upaya balasan setelah kegagalan militer dalam menghadapi perlawanan di lapangan.
Dalam pernyataan yang dikutip oleh Al Jazeera pada Kamis, 9 April 2026, Hizbullah menyatakan bahwa serangan tersebut justru memperkuat tekad masyarakat Lebanon untuk tetap bertahan dan melanjutkan perlawanan.
Lebih lanjut, mereka menuding bahwa langkah yang diambil Israel mencerminkan tekanan dan frustrasi akibat situasi di berbagai front konflik. Hizbullah juga menyinggung bahwa dinamika kekuatan di kawasan tidak lagi mudah diubah, terutama dengan adanya dukungan dari pihak-pihak sekutu di kawasan.
Kelompok tersebut menggambarkan serangan terbaru sebagai indikasi kondisi internal yang tidak stabil dalam tubuh militer Israel. Mereka mengaitkan hal ini dengan rangkaian serangan balasan yang dilakukan oleh kelompok perlawanan sebelumnya.
Hizbullah menegaskan bahwa korban jiwa yang jatuh tidak akan sia-sia, dan mereka menganggap kejadian ini sebagai dasar untuk terus melakukan perlawanan demi melindungi kedaulatan negara dan keamanan nasional.
Sementara itu, otoritas pertahanan sipil Lebanon melaporkan sedikitnya 254 orang meninggal dunia dan lebih dari 1.100 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan terbaru. Kementerian Kesehatan Lebanon juga menyampaikan bahwa fasilitas kesehatan di berbagai wilayah kini mengalami tekanan berat karena lonjakan pasien yang membutuhkan penanganan darurat.
