Ekonomi

Aksi Borong Saham PT Bank Central Asia Tbk oleh Direksi, Strategi Buy on Weakness Mulai Terlihat

24
×

Aksi Borong Saham PT Bank Central Asia Tbk oleh Direksi, Strategi Buy on Weakness Mulai Terlihat

Sebarkan artikel ini

Aksi akumulasi saham oleh jajaran direksi BBCA di tengah volatilitas pasar menjadi sinyal kuat strategi buy on weakness dan potensi kenaikan harga ke depan.

Jakarta– Dalam dunia investasi, ada prinsip yang sering dianggap cukup akurat—ketika para “pengemudi utama” sebuah perusahaan mulai membeli sahamnya sendiri, itu sering menjadi sinyal positif bagi pergerakan harga ke depan.

Fenomena tersebut terlihat pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Di tengah volatilitas pasar pada awal 2026, manajemen puncak justru aktif menambah kepemilikan saham, bukan mengambil posisi defensif.

Langkah ini bukan sekadar transaksi rutin, melainkan mencerminkan strategi buy on weakness, yaitu membeli aset berkualitas saat harganya sedang terkoreksi. Aksi ini juga menunjukkan optimisme tinggi dari pihak internal yang paling memahami kondisi dan prospek perusahaan dalam jangka panjang.

Berdasarkan laporan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, sejumlah direksi dan manajemen BBCA melakukan pembelian saham sepanjang kuartal pertama 2026, antara lain:

  • Hendra Lembong (Direktur Utama) meningkatkan kepemilikan menjadi 2.666.921 saham, dengan tambahan investasi sekitar Rp7,93 miliar.
  • John Kosasih (Wakil Presiden Direktur) membeli saham senilai Rp4,37 miliar pada Maret 2026, sehingga total kepemilikan mencapai 1.720.729 saham.
  • Vera Eve Lim (Direktur) menambah saham hingga total 3.281.460 lembar dengan nilai sekitar Rp3,84 miliar.
  • Santoso (Direktur) mencatat transaksi pembelian sekitar Rp3,46 miliar pada Maret 2026, dengan total kepemilikan 3.764.062 saham.
  • Frengky Candra Kusuma (Managing Director) mengakumulasi saham senilai Rp2,87 miliar sejak Maret 2025, dengan total 2.835.916 saham.
  • Lianawaty Suwono (Direktur) membeli 300 ribu saham senilai Rp2,1 miliar pada akhir Januari 2026 saat pasar bergejolak, sehingga total kepemilikannya menjadi 3.906.242 saham.

Valuasi BBCA Dinilai Menarik

Optimisme manajemen juga sejalan dengan kondisi valuasi saham BBCA saat ini. Dalam menilai saham bank, indikator yang kini lebih relevan adalah PER (Price to Earnings Ratio) dibanding PBV, karena PER mencerminkan berapa lama investor “mengembalikan” modal dari laba perusahaan.

Menurut pengamat pasar modal Rendy Yefta, BBCA saat ini diperdagangkan di kisaran PER sekitar 15 kali. Artinya, investor membayar setara 15 tahun laba untuk memiliki bank terbesar dan paling konsisten menghasilkan keuntungan di Indonesia.

Secara fundamental, BCA dikenal mampu mencetak laba puluhan triliun rupiah secara stabil dan terus bertumbuh. Bahkan dari sisi potensi ekspansi laba, bank ini dinilai lebih realistis untuk melipatgandakan kinerja dibanding bank digital, berkat basis bisnis yang sudah kuat, jaringan luas, dominasi dana murah (CASA), serta tren profit yang terus meningkat.

Ia menyoroti adanya ketimpangan valuasi di pasar. Bank digital yang skalanya lebih kecil dan risikonya lebih tinggi justru dihargai jauh lebih mahal, sementara BBCA relatif lebih murah. Kondisi ini sering disebut sebagai mispricing, di mana harga pasar belum mencerminkan nilai sebenarnya.

Peluang Rebound Terbuka

Kombinasi antara valuasi yang relatif rendah dan aksi akumulasi oleh pihak internal mengarah pada satu kesimpulan: saham BBCA berpotensi mengalami kenaikan harga dalam waktu mendatang.

Jika valuasi kembali ke kisaran historis, yakni PER 18–20 kali, maka harga sahamnya berpeluang naik cukup signifikan dari posisi saat ini. Target menuju level Rp10.000 per saham dalam beberapa bulan dinilai cukup masuk akal.

Sebagai catatan, harga tertinggi sepanjang masa saham ini pernah mendekati Rp11.000 per lembar. Artinya, masih ada ruang kenaikan yang cukup lebar.

Dengan fundamental yang kuat, risiko relatif terjaga, sementara potensi imbal hasil tetap menarik. Kesempatan mendapatkan saham bank besar dengan harga lebih rendah seperti ini tidak selalu muncul. Terlebih lagi, sinyal pembelian dari manajemen sudah terlihat jelas melalui investasi bernilai miliaran rupiah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *