Ekonomi

Dari Tekanan ke Penguatan: Rupiah Melonjak 0,54% Hari Ini

19
×

Dari Tekanan ke Penguatan: Rupiah Melonjak 0,54% Hari Ini

Sebarkan artikel ini

Penguatan rupiah dipicu sentimen global dari meredanya konflik AS–Iran serta kinerja positif pendapatan negara yang meningkatkan kepercayaan pasar.

Jakarta — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berhasil ditutup di zona positif pada perdagangan Rabu (8/4/2026), setelah sebelumnya sempat mengalami tekanan dalam beberapa hari terakhir.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah mengakhiri perdagangan di level Rp17.012 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan penguatan sebesar 93 poin atau sekitar 0,54 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.105 per dolar AS.

Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan bahwa rupiah sempat menguat lebih tinggi sebelum akhirnya ditutup di level tersebut. Pada sesi perdagangan hari ini, mata uang domestik sempat terapresiasi hingga 115 poin sebelum sedikit terkoreksi.

Sepanjang hari, pergerakan rupiah tercatat berada dalam kisaran Rp16.960 hingga Rp17.028 per dolar AS. Secara kumulatif sejak awal tahun (year to date), rupiah masih mencatat kinerja positif dengan kenaikan sekitar 1,99 persen.

Sementara itu, data dari Yahoo Finance juga menunjukkan tren serupa. Rupiah berada di kisaran Rp17.005 per dolar AS atau menguat 82 poin (0,48 persen) dibandingkan penutupan sebelumnya. Adapun kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di level Rp17.009 per dolar AS, naik 83 poin dari posisi sebelumnya.

Sentimen Global: Gencatan Senjata AS-Iran

Penguatan rupiah turut dipengaruhi oleh sentimen global, khususnya perkembangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS, Donald Trump, dikabarkan menyetujui penghentian sementara aksi militer terhadap Iran selama dua minggu.

Keputusan ini muncul menjelang tenggat waktu yang sebelumnya menjadi perhatian pelaku pasar global karena berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih besar. Dalam pernyataannya, Trump menyebut bahwa tujuan utama militer AS telah tercapai.

Gencatan senjata tersebut dimediasi oleh Pakistan melalui upaya diplomatik intensif. Kesepakatan ini juga mencakup jaminan dari Iran untuk menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang merupakan rute vital bagi sekitar 20 persen distribusi minyak global.

Iran mengindikasikan kesediaan untuk meredakan ketegangan dengan syarat penghentian permusuhan dan adanya koordinasi kapal dengan otoritas setempat selama masa gencatan senjata berlangsung.

Di sisi lain, pelaku pasar juga menanti rilis data inflasi Amerika Serikat, khususnya indeks harga konsumen (CPI) bulan Maret. Data ini diperkirakan mencerminkan dampak kenaikan harga energi dan berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga oleh bank sentral AS, Federal Reserve.

Kinerja Pendapatan Negara Dorong Sentimen Positif

Selain faktor global, penguatan rupiah juga didukung oleh sentimen domestik yang cukup solid. Hingga 31 Maret 2026, realisasi pendapatan negara tercatat mencapai Rp574,9 triliun, atau tumbuh 10,5 persen secara tahunan.

Capaian tersebut setara dengan 18,2 persen dari target dalam APBN 2026 sebesar Rp3,15 kuadriliun.

Kontribusi terbesar berasal dari sektor perpajakan yang mencatatkan penerimaan Rp462,7 triliun, naik 14,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Rinciannya meliputi pajak sebesar Rp394,8 triliun serta kepabeanan dan cukai sebesar Rp67,9 triliun.

Beberapa komponen pajak menunjukkan pertumbuhan positif, seperti Pajak Penghasilan (PPh) Badan sebesar Rp43,3 triliun, PPh Orang Pribadi dan PPh 21 sebesar Rp61,3 triliun, serta jenis pajak lainnya yang juga mengalami peningkatan.

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) mencatat lonjakan signifikan hingga Rp155,6 triliun atau naik 57,7 persen secara tahunan. Meski demikian, penerimaan dari kepabeanan dan cukai mengalami penurunan, terutama pada sektor cukai dan bea keluar.

Pendapatan negara juga diperkuat oleh Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp112,1 triliun serta hibah senilai Rp100 miliar.

Proyeksi Pergerakan Rupiah

Melihat berbagai faktor tersebut, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan Kamis akan cenderung fluktuatif dengan kecenderungan melemah.

Ia memproyeksikan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.010 hingga Rp17.040 per dolar AS pada penutupan perdagangan berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *