Internasional

Inggris Pertimbangkan Kirim Kapal dan Drone untuk Operasi Ranjau di Selat Hormuz

25

Inggris siapkan opsi militer dengan kapal dan drone untuk menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.

London: Pemerintah Inggris dikabarkan tengah menyiapkan langkah antisipatif dengan merencanakan pengiriman kapal Angkatan Laut Kerajaan ke Selat Hormuz. Langkah ini bertujuan mendukung operasi pembersihan ranjau seiring meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut.

Menurut laporan media Inggris, kapal pendarat amfibi RFA Lyme Bay yang saat ini berada di Gibraltar akan dipasangi teknologi otonom untuk mendeteksi sekaligus menyingkirkan ranjau laut sebelum kemungkinan diberangkatkan ke wilayah konflik.

Sumber yang dikutip menyebutkan bahwa Menteri Pertahanan Inggris, John Healey, telah menyetujui skenario darurat terkait rencana pengerahan kapal sepanjang sekitar 580 kaki itu ke Selat Hormuz.

Kapal tersebut nantinya akan dibekali berbagai perangkat canggih, termasuk drone bawah laut dan kapal pemburu ranjau. Dengan perlengkapan ini, RFA Lyme Bay dapat difungsikan sebagai pusat kendali untuk operasi pemindaian dasar laut sekaligus penjinakan ranjau.

Meski demikian, pihak pertahanan Inggris menegaskan bahwa keputusan final terkait pengerahan kapal tersebut masih belum ditetapkan.

Seorang sumber menyatakan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya pencegahan yang memberi fleksibilitas bagi pemerintah jika diperlukan, terutama untuk membantu mengembalikan kelancaran jalur pelayaran komersial di kawasan strategis tersebut.

Sebelumnya, unit drone milik Angkatan Laut Inggris yang telah berada di kawasan juga tengah dipertimbangkan untuk ikut serta dalam operasi ini. Kapal RFA Lyme Bay sendiri diketahui mampu membawa hingga 500 personel, serta dilengkapi fasilitas medis dan sistem persenjataan.

Langkah Inggris ini muncul di tengah dorongan dari Donald Trump, yang sebelumnya menyampaikan kritik terhadap respons London dan meminta peran yang lebih aktif dalam menjaga stabilitas Selat Hormuz.

Di sisi lain, United States Central Command mengungkapkan bahwa kapal serbu amfibi USS Tripoli yang membawa ribuan personel militer telah tiba di kawasan Timur Tengah.

Ketegangan di wilayah tersebut meningkat setelah serangan udara oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari yang menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan menggunakan drone dan rudal yang menyasar sejumlah wilayah, termasuk Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat.

Sejak awal Maret, situasi ini berdampak pada terganggunya aktivitas di Selat Hormuz, jalur penting distribusi minyak dunia dengan volume sekitar 20 juta barel per hari. Kondisi tersebut turut memicu kenaikan biaya logistik dan harga minyak global.

Exit mobile version