Internasional

Israel Percepat Serangan ke Iran di Tengah Kekhawatiran Rencana Damai AS

7

Israel mempercepat operasi militer terhadap Iran di tengah kekhawatiran rencana damai Amerika Serikat tidak cukup membatasi ancaman nuklir dan rudal.

Tel Aviv — Pemerintah Israel dilaporkan merasa waswas terhadap proposal perdamaian 15 poin yang disiapkan Amerika Serikat (AS). Mereka menilai rancangan tersebut belum cukup tegas dalam membatasi program nuklir serta pengembangan rudal Iran.

Menurut laporan The New York Times pada Rabu, 25 Maret 2026, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah memerintahkan militer untuk mempercepat operasi udara terhadap Iran dalam kurun waktu 48 jam. Langkah ini disebut bertujuan memaksimalkan penghancuran fasilitas produksi persenjataan Iran sebelum kemungkinan diberlakukannya gencatan senjata oleh Washington.

Instruksi tersebut muncul setelah pemerintah Israel memperoleh dokumen rencana perdamaian AS. Dari evaluasi internal, Tel Aviv menilai dokumen itu belum secara memadai mengatasi isu utama seperti program nuklir Iran maupun kemampuan rudal balistiknya.

Dalam laporan yang sama, disebutkan bahwa pejabat Israel khawatir Presiden AS Donald Trump dapat sewaktu-waktu mengumumkan dimulainya pembicaraan damai.

Menanggapi kabar tersebut, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengimbau publik untuk tidak terburu-buru menyimpulkan. Ia menyebut informasi yang beredar memang memiliki unsur kebenaran, namun tidak seluruhnya akurat, dan belum pernah dikonfirmasi secara resmi oleh pihak Gedung Putih.

Perintah percepatan operasi militer itu disampaikan Netanyahu dalam sebuah pertemuan di markas militer pada Selasa, setelah menerima laporan dari para komandan senior mengenai target-target yang masih bisa diserang.

Keterbatasan Pengaruh Israel

Sejumlah pejabat keamanan Israel mengakui bahwa situasi ini mencerminkan keterbatasan posisi negara tersebut. Mereka menilai keputusan akhir terkait penghentian perang berada di tangan Washington, sehingga ruang pengaruh Israel relatif terbatas.

Di sisi lain, perbedaan pandangan juga muncul di kalangan pejabat Israel. Sebagian menginginkan waktu tambahan sekitar satu minggu untuk menyelesaikan target operasi yang lebih luas, sementara kelompok lain lebih memilih mengakhiri konflik lebih cepat.

Beberapa pejabat juga menilai bahwa capaian militer terbesar telah diraih pada fase awal konflik. Seiring waktu, kekhawatiran meningkat terhadap tekanan opini internasional, dampak ekonomi perang, serta beban mental dan fisik yang dirasakan masyarakat Israel.

Sejak 28 Februari, serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk pemimpin tertinggi saat itu, Ali Khamenei. Iran pun merespons dengan serangan balasan yang berdampak pada gangguan distribusi minyak global dan penerbangan.

Pada hari Senin, Presiden Trump dilaporkan menghentikan sementara serangan terhadap infrastruktur energi Iran. Sementara itu, komunikasi tidak langsung antara AS dan Iran melalui pihak perantara disebut masih terus berlangsung.

Exit mobile version