Ekonomi

Konflik AS–Iran Berpotensi Picu Krisis Energi Global Jika Berlarut

52
×

Konflik AS–Iran Berpotensi Picu Krisis Energi Global Jika Berlarut

Sebarkan artikel ini

Gangguan di Selat Hormuz akibat konflik AS–Iran memicu ancaman krisis energi global dan lonjakan harga minyak dunia.

New York – Pasar energi dunia kini berada dalam tekanan besar akibat konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah. Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berdampak langsung pada jalur distribusi energi vital, khususnya Selat Hormuz, yang menjadi salah satu rute utama perdagangan minyak global.

Laporan terbaru dari Bank of America (BofA) Global Research dalam publikasi Global Energy Weekly mengungkapkan bahwa volume pengiriman minyak melalui Selat Hormuz merosot tajam. Dari sebelumnya sekitar 20 juta barel per hari, kini hanya tersisa kurang dari 2 juta barel per hari.

Para analis memperingatkan, jika gangguan ini terus berlangsung selama beberapa pekan, dunia bisa menghadapi krisis energi serius yang mengingatkan pada gejolak besar di era 1970-an.

Harga minyak mulai terdorong naik

Meski dampak penuh belum sepenuhnya tercermin di pasar, harga minyak mentah global mulai menunjukkan kenaikan. Rata-rata harga minyak Brent kini diproyeksikan mencapai sekitar USD92,50 per barel.

Kenaikan ini sebagian tertahan oleh pelepasan cadangan strategis serta pasokan minyak yang masih berada di laut. Namun, data pemantauan satelit mengindikasikan bahwa pasar sedang mengalami pengetatan pasokan secara cepat.

BofA juga telah menyesuaikan proyeksi mereka dengan mempertimbangkan kemungkinan konflik berkepanjangan. Diperkirakan akan terjadi defisit pasokan hingga 4 juta barel per hari pada kuartal kedua tahun 2026.

Ketimpangan produsen dan konsumen makin lebar

Situasi ini menciptakan ketidakseimbangan antara negara produsen dan konsumen. Negara-negara penghasil minyak di kawasan Teluk mengalami penumpukan stok karena keterbatasan ekspor, sementara negara konsumen justru menguras cadangan mereka dengan kecepatan yang sulit dipertahankan.

Alternatif distribusi melalui jalur pipa dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga dinilai belum mampu menggantikan peran Selat Hormuz secara signifikan. Jika kondisi ini berlanjut, permintaan energi global diperkirakan bisa turun antara 4 hingga 5 persen secara tahunan.

Risiko gangguan rantai pasokan semakin nyata

Keterbatasan pengganti minyak, terutama untuk sektor transportasi dan industri petrokimia, meningkatkan risiko terjadinya pembatasan konsumsi energi. Para analis menilai pasar saat ini terlalu optimistis dengan asumsi konflik akan segera berakhir.

Padahal, jika ketegangan berlanjut selama dua hingga empat minggu ke depan, rantai pasokan energi global bisa mencapai titik kritis. Dalam kondisi tersebut, pembatasan penggunaan energi secara paksa mungkin tidak terhindarkan.

Investor global kini tidak hanya mencemaskan lonjakan harga, tetapi juga ketersediaan fisik energi. Perubahan arus distribusi minyak berpotensi memicu tekanan stagflasi, di mana pertumbuhan ekonomi melambat di tengah tingginya biaya energi.

Saat ini, perhatian dunia tertuju pada kemungkinan langkah darurat internasional untuk mengamankan jalur pelayaran, sebelum cadangan energi di negara-negara konsumen benar-benar menipis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *