Ankara — Sebuah rudal balistik yang dilaporkan berasal dari Iran berhasil dihentikan saat memasuki wilayah udara Turki. Sistem pertahanan udara milik NATO yang ditempatkan di kawasan Mediterania Timur melakukan pencegatan terhadap proyektil tersebut.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Senin, 30 Maret 2026, Kementerian Pertahanan Nasional Turki menegaskan bahwa pihaknya tetap siaga menghadapi berbagai potensi ancaman serta terus memantau dinamika keamanan regional secara ketat.
Perwakilan NATO turut membenarkan kejadian tersebut. Aliansi militer itu menyatakan kembali berhasil mencegat rudal balistik yang mengarah ke wilayah Turki, sekaligus menegaskan komitmennya dalam melindungi seluruh negara anggota dari ancaman serupa.
Pihak Kementerian Pertahanan Turki menambahkan bahwa setiap langkah pengamanan dilakukan secara cepat dan tegas demi menjaga kedaulatan wilayah dan keamanan ruang udara nasional.
Insiden ini menjadi yang ketiga sejak awal Maret. Sebelumnya, pada 4 Maret, rudal yang melintas melalui wilayah Irak dan Suriah berhasil dihancurkan, dengan sisa puing jatuh di distrik Dortyol, Provinsi Hatay. Kemudian pada 9 Maret, rudal lain juga berhasil dinetralisasi, dan serpihannya jatuh di area kosong di Provinsi Gaziantep tanpa menimbulkan korban jiwa.
Serangkaian pelanggaran wilayah udara ini terjadi di tengah meningkatnya tensi kawasan, menyusul serangan udara yang dilakukan oleh Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangkaian serangan menggunakan drone dan rudal ke berbagai target di kawasan, termasuk Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi penempatan pasukan Amerika Serikat. Serangan balasan ini turut berdampak pada kerusakan infrastruktur serta mengganggu stabilitas pasar energi global dan sektor penerbangan internasional.
