EkonomiInternasional

Harga Minyak Menguat, Brent Kembali Tembus USD110 per Barel

27

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ketidakpastian Selat Hormuz mendorong lonjakan harga minyak global serta meningkatkan kekhawatiran pasar energi.

Houston – Harga minyak dunia kembali menunjukkan tren kenaikan pada Sabtu, 28 Maret 2026. Minyak jenis Brent berhasil melampaui level USD100 per barel, didorong oleh memudarnya harapan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran di tengah konflik yang masih berlangsung.

Perpanjangan batas waktu rencana serangan Amerika Serikat terhadap fasilitas energi Iran oleh Presiden Donald Trump tidak mampu meredakan ketegangan pasar. Situasi semakin memanas setelah Iran menuduh Israel—sekutu AS—melakukan serangan terhadap sejumlah fasilitas penting, termasuk pabrik baja, pembangkit listrik, dan lokasi nuklir.

Mengutip laporan Investing.com pada Sabtu, 28 Maret 2026, kontrak berjangka Brent untuk pengiriman Mei naik sekitar 4,3 persen ke posisi USD112,60 per barel. Sementara itu, minyak mentah WTI juga mengalami kenaikan sebesar 5 persen menjadi USD99,28 per barel.

Iran Tuduh Israel Serang Infrastruktur Penting

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan melalui media sosial bahwa Israel telah menyerang dua pabrik baja terbesar di negaranya, satu pembangkit listrik, serta fasilitas nuklir sipil lainnya. Ia juga menuduh bahwa serangan tersebut dilakukan dengan koordinasi bersama Amerika Serikat.

Menurut Araghchi, tindakan tersebut melanggar batas waktu diplomasi yang sebelumnya diperpanjang oleh pemerintah AS. Ia menegaskan bahwa Iran akan memberikan respons tegas atas serangan tersebut.

Pernyataan itu merujuk pada pengumuman Presiden Trump yang memperpanjang tenggat waktu bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz hingga 6 April. Jika tidak dipatuhi, AS mengancam akan menyerang infrastruktur energi Iran.

Trump mengklaim bahwa perpanjangan tersebut dilakukan atas permintaan Iran dan menyebut adanya pembicaraan yang sedang berlangsung antara kedua negara dengan hasil yang positif. Namun, klaim ini dibantah oleh pihak Teheran yang menyatakan tidak ada negosiasi dengan Washington.

Ketegangan di Selat Hormuz Jadi Sorotan Dunia

Sebelumnya, Trump telah memberikan ultimatum kepada Iran untuk membuka blokade Selat Hormuz—jalur penting bagi distribusi sekitar 20 persen minyak dunia—atau menghadapi serangan militer. Ia sempat menunda rencana tersebut setelah mengaku melakukan diskusi intensif dengan Iran.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengungkapkan bahwa isu Selat Hormuz menjadi salah satu topik utama dalam pertemuan negara-negara G7 di Prancis. Ia menilai potensi penerapan sistem pungutan oleh Iran di selat tersebut sebagai langkah yang tidak dapat diterima.

Rubio menegaskan bahwa kebijakan semacam itu tidak hanya melanggar hukum internasional, tetapi juga berisiko besar bagi stabilitas global. Ia juga menyebut bahwa banyak negara, termasuk di Asia, memiliki kepentingan besar untuk memastikan jalur pelayaran internasional tetap terbuka.

Meski demikian, upaya Gedung Putih untuk menggalang dukungan internasional guna membuka kembali jalur tersebut belum mendapatkan respons luas.

Ketidakpastian Konflik Dorong Volatilitas Harga

Mantan perwakilan Bank Dunia untuk Kazakhstan, Yerbol Orynbayev, menyebut bahwa kondisi di Selat Hormuz telah mengganggu pasokan minyak global. Ia menilai arah harga minyak ke depan sangat bergantung pada durasi konflik—apakah segera mereda atau justru berkepanjangan.

Menurutnya, pengalaman sejarah menunjukkan bahwa konflik yang berlangsung lebih dari dua minggu cenderung sulit diselesaikan dengan cepat.

Pada awal pekan, harga minyak sempat mengalami tekanan setelah adanya sinyal pembicaraan damai antara AS dan Iran. Brent dan WTI bahkan sempat mencatat penurunan sekitar 10 persen. Namun, seiring meredupnya harapan tersebut, harga kembali menguat dan menghapus kerugian sebelumnya.

Kenaikan harga energi ini memicu kekhawatiran terhadap inflasi global. Hal tersebut juga mendorong ekspektasi bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang berdampak pada kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah, termasuk obligasi AS tenor 10 tahun yang mencapai level tertinggi sejak Juli.

Orynbayev menambahkan bahwa harga minyak kemungkinan akan tetap bergejolak dalam jangka pendek. Sensitivitas pasar terhadap setiap perkembangan kecil terkait konflik membuat fluktuasi harga semakin tinggi.

Ia menilai kondisi ini dapat menciptakan siklus ketidakstabilan yang sulit dihentikan tanpa adanya perubahan besar dalam situasi geopolitik.

Exit mobile version