Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup di zona merah pada perdagangan Kamis sore. Pelemahan ini dipengaruhi oleh tekanan nilai tukar rupiah serta lonjakan harga minyak mentah global.
IHSG tercatat turun sebesar 163 poin atau 2,16 persen ke level 7.378,61. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 juga mengalami penurunan sebesar 20,09 poin atau 2,73 persen ke posisi 715,88.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menjelaskan bahwa salah satu sentimen negatif utama berasal dari melemahnya rupiah. Nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp17.300 per dolar AS sebelum akhirnya ditutup di Rp17.286 per dolar AS di pasar spot, yang menjadi salah satu titik terlemah sepanjang sejarah.
Dari sisi domestik, pelemahan rupiah dinilai berlangsung cukup cepat dan melampaui ekspektasi pelaku pasar. Kebijakan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) dalam beberapa periode terakhir dinilai belum mampu memberikan dorongan signifikan untuk menahan tekanan terhadap mata uang.
Kondisi ini semakin diperberat oleh ketergantungan Indonesia terhadap impor energi, terutama di tengah tren kenaikan harga minyak dunia. Meski pemerintah telah menaikkan harga BBM nonsubsidi, tekanan terhadap neraca eksternal tetap terasa.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan menjadi sekitar 0,5 hingga 1,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya.
Di sisi lain, likuiditas perekonomian menunjukkan peningkatan. Uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh 9,7 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp10.355 triliun pada Maret 2026, meningkat dari pertumbuhan Februari yang sebesar 8,7 persen.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh kenaikan uang beredar sempit (M1) sebesar 14,4 persen serta uang kuasi yang naik 5,2 persen. Selain itu, peningkatan ini juga dipengaruhi oleh penyaluran kredit dan klaim terhadap pemerintah pusat.
Menurut Ratna, lonjakan uang beredar tersebut berkaitan dengan meningkatnya aktivitas ekonomi menjelang Idulfitri, di mana kebutuhan transaksi, konsumsi, dan investasi biasanya mengalami peningkatan.











