Internasional

Iran Kaji Usulan AS, Belum Berminat Lanjut ke Perundingan

10

Iran membuka peluang diplomasi bersyarat di tengah tekanan Amerika Serikat dan kekhawatiran Israel atas potensi kesepakatan.

Teheran: Pemerintah Iran saat ini tengah mempelajari proposal yang diajukan Amerika Serikat (AS) terkait upaya mengakhiri konflik di kawasan Teluk. Meski demikian, Teheran menegaskan belum memiliki niat untuk terlibat dalam dialog langsung guna menghentikan eskalasi konflik di Timur Tengah.

Pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengindikasikan bahwa negaranya tetap membuka peluang negosiasi, namun hanya jika sejumlah syarat yang mereka ajukan dapat dipenuhi.

Ia menegaskan bahwa pertukaran pesan yang terjadi melalui pihak perantara tidak dapat disamakan dengan proses negosiasi resmi dengan Washington. Menurutnya, berbagai gagasan yang disampaikan melalui jalur tersebut telah diteruskan kepada otoritas tertinggi Iran, dan keputusan terkait sikap resmi akan diumumkan pada waktu yang dianggap tepat.

Di sisi lain, proposal yang diajukan Presiden AS, Donald Trump, disebut memuat sekitar 15 poin utama. Dokumen tersebut dikirim melalui Pakistan dan mencakup tuntutan seperti penghapusan stok uranium dengan tingkat pengayaan tinggi milik Iran, penghentian aktivitas pengayaan, pembatasan program rudal balistik, serta penghentian dukungan finansial kepada kelompok sekutu di kawasan. Informasi ini diungkap oleh beberapa sumber dari kabinet Israel.

Pemerintah AS sendiri belum bersedia membeberkan rincian lengkap proposal tersebut. Namun, Gedung Putih memberi sinyal keras bahwa tekanan militer dapat ditingkatkan jika Iran tidak menunjukkan perubahan sikap. Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa AS siap mengambil langkah lebih tegas apabila Iran tetap mengabaikan kondisi di lapangan.

Sementara itu, pihak Israel menunjukkan sikap skeptis terhadap kemungkinan Iran menerima persyaratan tersebut. Seorang pejabat pertahanan senior menyebutkan kekhawatiran bahwa negosiator AS mungkin saja memberikan konsesi tertentu. Selain itu, Israel ingin memastikan bahwa setiap kesepakatan yang tercapai tetap memberikan ruang bagi mereka untuk melakukan tindakan militer preventif jika diperlukan. Kabinet keamanan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga telah mendapatkan penjelasan terkait isi proposal tersebut.

Di tengah perkembangan ini, pasar global merespons secara positif. Indeks saham dunia mengalami penguatan, sementara harga minyak mengalami penurunan setelah muncul kabar mengenai proposal AS tersebut. Pelaku pasar berharap adanya peluang berakhirnya konflik yang selama ini mengganggu pasokan energi global dan berpotensi memicu tekanan inflasi.

Exit mobile version