Internasional

Selasa Disebut Jadi Titik Krusial Ancaman AS terhadap Infrastruktur Iran

38

Ancaman Donald Trump terhadap Iran memicu kekhawatiran global di tengah eskalasi konflik Timur Tengah.

Washington — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan peringatan tegas terkait rencana aksi militer yang disebutnya akan terjadi pada Selasa, 7 April 2026. Ia menyatakan bahwa hari tersebut bisa menjadi momen penting bagi serangan terhadap fasilitas energi dan transportasi milik Iran.

Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Teheran.

Melalui akun media sosial Truth Social pada Minggu (5 April), Trump menyampaikan bahwa target operasi akan mencakup pembangkit listrik serta jembatan yang akan diserang secara bersamaan.

“Selasa akan menjadi hari yang berfokus pada pembangkit listrik dan jembatan di Iran. Ini akan menjadi sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya,” tulisnya, sebagaimana dilaporkan oleh Anadolu Agency pada Senin (6 April 2026).

Trump juga menekan pemerintah Iran agar segera membuka kembali akses Selat Hormuz jika ingin menghindari dampak yang lebih parah. Jalur tersebut merupakan salah satu rute penting distribusi energi global yang kini dibatasi oleh otoritas Iran.

“Jika Selat Hormuz tidak dibuka, konsekuensinya akan sangat berat,” tegas Trump.

Situasi di kawasan Timur Tengah sendiri semakin memanas sejak operasi militer gabungan AS-Israel dimulai pada 28 Februari 2026. Konflik tersebut telah menimbulkan korban besar dan kerusakan luas.

Dilaporkan lebih dari 1.300 orang meninggal dunia, termasuk tokoh penting Iran, Ali Khamenei. Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan drone dan rudal ke sejumlah wilayah, termasuk Israel, Yordania, Irak, dan beberapa negara Teluk yang menjadi lokasi fasilitas militer Amerika Serikat.

Di sisi lain, Iran memperketat pengawasan dan pergerakan kapal di Selat Hormuz sebagai bagian dari strategi pertahanannya, langkah yang memicu ketegangan lebih lanjut dengan Washington.

Pernyataan terbaru dari Trump menunjukkan adanya perubahan fokus target militer Amerika Serikat, dari instalasi pertahanan menuju infrastruktur sipil strategis. Hal ini dikhawatirkan akan memperparah dampak kemanusiaan dan ekonomi di kawasan tersebut.

Exit mobile version