Washington — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan klaim bahwa beberapa pejabat tinggi militer Iran tewas dalam sebuah serangan besar yang menargetkan ibu kota Teheran pada Sabtu, 4 April 2026.
Melalui platform media sosial Truth Social, Trump menyatakan bahwa para petinggi militer tersebut telah “dihabisi” dalam operasi yang ia sebut berskala besar. Ia juga membagikan video berdurasi sekitar satu menit yang diklaim memperlihatkan ledakan di langit Teheran, di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan.
Selain itu, Trump mengeluarkan peringatan baru kepada Iran dengan batas waktu 48 jam. Ia menegaskan bahwa situasi dapat memburuk jika Iran tidak mencapai kesepakatan dengan Washington atau tidak membuka kembali Selat Hormuz.
Pernyataan tersebut muncul bersamaan dengan operasi militer AS yang masih berlangsung untuk mencari seorang awak pesawat yang hilang. Insiden ini terjadi setelah dua pesawat tempur Amerika dilaporkan jatuh di wilayah Iran dalam satu hari.
Sejumlah pejabat AS mengonfirmasi bahwa satu awak masih berada di area berisiko tinggi, sehingga mendorong dilakukannya misi pencarian dengan tingkat bahaya yang besar.
Di dalam negeri, situasi ini turut memicu dinamika politik di Washington. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, dikabarkan meminta Kepala Staf Angkatan Darat, Randy George, untuk mengundurkan diri, meskipun alasan resmi belum dipublikasikan.
Sementara itu, Iran menanggapi pernyataan Trump melalui akun media sosial resminya. Kedutaan Iran di Afrika Selatan dan Pakistan melontarkan sindiran terhadap seruan “pergantian rezim” yang disampaikan oleh Trump.
Kedutaan Iran di Afrika Selatan bahkan menulis bahwa “perubahan rezim telah terjadi,” dengan nada yang menyindir kepemimpinan Amerika Serikat. Di sisi lain, Kedutaan Iran di Pakistan menyatakan bahwa awak militer AS yang hilang justru lebih berisiko di bawah kepemimpinan Trump dibandingkan jika berada dalam tahanan Iran, seraya menambahkan bahwa pihaknya akan memperlakukan tahanan dengan baik dan penuh hormat.
Jatuhnya pesawat tempur AS serta respons keras dari Iran semakin memperkeruh situasi konflik yang telah berlangsung hampir enam pekan. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi eskalasi lebih lanjut di kawasan Teluk, sekaligus memunculkan pertanyaan terkait klaim keunggulan udara yang sebelumnya disampaikan oleh Amerika Serikat.
