Internasional

Trump Kecewa NATO Enggan Bantu AS Amankan Selat Hormuz

3

Penolakan NATO memperkuat ketegangan geopolitik saat AS menghadapi krisis keamanan dan gangguan distribusi minyak di Selat Hormuz.

Washington – Presiden Donald Trump mengungkapkan kekecewaannya setelah sejumlah sekutu, khususnya NATO, menolak mendukung rencana Amerika Serikat dalam mengamankan jalur strategis Selat Hormuz dari ancaman Iran.

Trump menyatakan bahwa Washington sejatinya mampu bertindak sendiri tanpa bantuan aliansi militer tersebut. Hal itu disampaikan setelah beberapa negara anggota NATO menolak permintaan AS untuk mengirim armada laut multinasional guna membuka kembali jalur perdagangan yang terganggu.

Dalam pernyataannya dari Gedung Putih, Trump menyebut sikap sekutu sebagai keputusan yang keliru. Ia menilai banyak negara sebenarnya sejalan dengan posisi AS, namun enggan terlibat langsung dalam operasi militer.

Presiden AS juga menyinggung harapannya terhadap negara-negara Eropa, yang menurutnya dapat berkontribusi melalui pengiriman kapal penyapu ranjau. Meski ia menganggap operasi tersebut bukan hal besar, Trump menilai beban yang ditanggung AS terasa tidak seimbang.

Kekecewaan Trump turut diarahkan kepada Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. Ia menilai hubungan dengan Inggris sebelumnya berjalan baik, namun kini mengalami perubahan. Di sisi lain, Starmer menegaskan bahwa Inggris siap melindungi kepentingan nasional dan sekutu, tetapi tidak ingin terlibat dalam konflik berskala luas.

Pemerintah Inggris sendiri dilaporkan belum memiliki rencana untuk mengirimkan kapal ke kawasan tersebut. Sejumlah negara sekutu lainnya juga mempertanyakan langkah Washington dalam memperluas konflik, terutama terkait keterlibatan dalam ketegangan antara Israel dan Iran yang telah berlangsung selama beberapa pekan.

Melalui platform media sosial Truth Social, Trump turut mengkritik negara-negara seperti Jepang, Australia, dan Korea Selatan yang juga menolak mengirimkan kapal perang. Ia menegaskan bahwa AS tidak lagi membutuhkan bantuan mereka.

Situasi ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, di mana Iran dilaporkan menyerang kapal-kapal kargo yang melintasi Selat Hormuz. Aksi tersebut mengganggu distribusi minyak global dan mendorong lonjakan harga energi dunia hingga melampaui USD100 per barel.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital perdagangan energi dunia, dengan sekitar seperlima pasokan minyak global melewati wilayah tersebut setiap harinya. Iran disebut berupaya membatasi pengiriman ke negara-negara yang dianggap sebagai lawan.

Saat ditanya mengenai kemungkinan operasi militer yang lebih luas, termasuk opsi darat di wilayah strategis Iran, Trump menegaskan bahwa ia tidak merasa khawatir terhadap potensi eskalasi konflik.

Sementara itu, laporan lain menyebutkan adanya upaya diplomatik dari Washington untuk melibatkan pihak di Suriah dalam melemahkan pengaruh Hizbullah di kawasan.

Di lapangan, ketegangan terus meningkat. Qatar dilaporkan berhasil mencegat rudal yang jatuh tanpa korban jiwa, sementara Uni Emirat Arab sempat menutup wilayah udaranya akibat ancaman serangan. Di Irak, serangan drone dan roket terjadi di sekitar Kedutaan Besar AS di Baghdad.

Ledakan juga dilaporkan terjadi di sejumlah kota Iran seperti Teheran, Isfahan, dan Shiraz, menandai meluasnya konflik di kawasan.

Di tengah situasi tersebut, Irak disebut telah mencapai kesepakatan dengan Iran untuk memungkinkan kapal tanker tetap melintasi Selat Hormuz, sebagai upaya menjaga stabilitas distribusi energi.

Trump juga menyinggung kematian tokoh penting Iran dalam serangan Israel, yang diyakini merujuk pada Ali Larijani. Ia mengaitkan sosok tersebut dengan tindakan keras terhadap demonstran dalam negeri Iran.

Meski kerap mengklaim keberhasilan militer, pernyataan Trump terkait arah kebijakan ke depan dinilai masih belum konsisten. Ia menyebut AS belum akan mundur dalam waktu dekat, namun juga membuka kemungkinan untuk mengakhiri keterlibatan dalam waktu tertentu.

Exit mobile version